KAMI RINDU BEL ISTIRAHAT (Sebuah Harapan Akan Pendidikan Indonesia yang Yebih Baik)


Pagi yang cerah saat Dimas melangkahkan kakinya ke sekolah dengan semangat, untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar pertamanya di Sekolah Dasar. Seperti pada umumnya, anak seusia Dimas, sangatlah semangat saat pertama kali akan menginjakkan kakinya dibangkuh sekolah.
          Saat bel masuk pertama bunyi, anak-anak mulai berlarian ke pintu kelas yang telah dijaga oleh seorang guru dengan senyum, dan dibalas dengan salaman tangan dari siswa siswinya. Begitu pun saat bel istirahat berbunyi, siswa siswi dengan semangatnya berhamburan keluar kelas, dengan harapan bias bermain dan jajan.  Dan itulah keindahan dan semangat saat anak pertama kali memasuki dunia pembelajaran yang bersifat formal.
          Seiring berjalannya waktu, 6 tahun dilalui Dimas dibangku SD, kemudian dilanjutkan ke bangku SMP. Ada yang berbeda saat bel masuk pertama bunyi di SMP itu, tidak ada lagi semangat dan keindahan yang mencul dari raut muka siswa siswi baru itu, termasuk Dimas. Namun semangat saat bel istirahat tetap bertahan, dan itu berlanjut sampai hari-hari berikutnya. Seakan-akan bel masuk menjadi hal yang menakutkan dan bel istirahat menjadi surganya pelajar, yang bias dimanfaatkan untuk bermain, jajan, dan kegiatan lainnya.
          Dan saya rasa, apa yang terjadi pada kisah Dimas diatas terjadi kepada hampir seluruh pelajar Indonesia, yang lebih menyukai bel istirahat dibandingkan bel masuk yang notabenenya akan memberikan manfaat jauh lebih baik. Lantas kenapa semua itu bisa terjadi..?, kenapa kebanyakan pelajar lebih bahagia berada diluar kelas dibandingkan di dalam kelas….?.
          Ketika kita berbicara mengenai penyebab semua itu terjadi, sebenarnya ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Namun, saya akan mengurai beberapa faktor besar yang menjadi penyebab terjadi hal diatas.
1.      Sistem Pendidikan.
       Pada umumnya, sistem pendidikan itu sangatlah luas karena mencakup semua aspek pada bidang pendidikan, namun sistem yang saya maksud disini adalah sistem yang mengatur kegiatan proses belajar mengajar khususnya kelas formal.
       Sistem yang mengatur kegiatan belajar mengajar khususnya di Indonesia cenderung membosankan dan memberikan ketidaknyamanan kepada peserta didik itu sendiri. Kita ambil contoh, gaya belajar siswa siswi dalam kelas. Gaya belajar yang bersifat pasif yang dimana siswa dituntut untuk tenang dan diam selama proses belajar mengajar berlangsung, cenderung memberikan efek ketidaknyaman, yang saya rasa kita semua telah mengalaminya.
      Gaya belajar yang pasif tidaklah sesuai dengan jiwa siswa yang lebih ingin aktif dan bergerak. Sehingga wajar ketika bel istirahat bunyi siswa siswi berhamburan keluar dengan bahagianya karena mereka merasa lebih menemukan dunia mereka diluar sana dibandingkan didalam kelas, yaitu dunia aktif.
2.      Profesionalisme Guru.
       Tidak bisa dipungkiri jika saat ini tingkat profesionalisme guru di Indonesia masih tergolong rendah. Meskipun berbagai cara telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan profesionalitas guru, seperti dengan mengadakan seminar, pelatihan, sertifikasi, Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), kualitas guru kita masih tetap sama.
       Adanya program peningkatan kesejahteraan guru lewat jalur sertifikasi justru bukan dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan profesionalisme, tapi hanya digunakan untuk mencari tambahan materi. Jika hal itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin suatu saat guru juga bisa terkena moratorium. Alasannya sangat jelas, anggaran untuk menggaji guru sangat besar sementara kualitas guru tidak meningkat.
       Karena itu, profesionalisme merupakan harga mati bagi guru jika tidak ingin terkena moratorium PNS di masa mendatang. Karena hanya dengan guru yang profesional maka pendidikan di Indonesia akan dapat maju dan melahirkan generasi penerus yang berkualitas. Dan itu artinya, pemerintah tidak salah jika mengeluarkan anggaran besar demi menggaji guru.
       Selain itu profesionalisme guru memiliki korelasi yang sangat erat dengan hasil produk pendidikan. Guru yang profesional akan membantu proses pembelajaran menjadi berkualitas, sehingga peserta didik merasa senang dan nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran.
3.      Fasilitas Pendidikan.
       Harus diakui bahwa fasilitas pendidikan di Indonesia sebagian besar masih berada pada golongan rendah. Sudah sering kita lihat di berbagai media, betapa banyaknya ruang sekolah yang diding dan atapnya bolong, bangku yang hampir roboh, sampai kepada ruang belajar yang roboh, dan segelincir kekurangan- kekurangan fasilitas lainnya.
       Maka sudah sewajarnya ketika para peserta didik merasa lebih nyaman dan bahagia berada diluar kelas dibandingkan di dalam. Bagaimana tidak, kalau fasilitas dalam kelas lebih banyak memberikan ketidaknyamanan dibandingkan kenyamanan itu sendiri, yang merupakan hak mutlak seorang peserta didik.
Dengan ketiga permasalahan besar diatas saya merasa, itulah penyebab utama mengapa sebagian besar pelajar Indonesia lebih merindukan bel istirahat dibandingkan bel masuk kelas. Sehingga dengan adanya pemecahan permasalahan diatas, maka bukan menjadi barang tidak mungkin ketika kedepannya pelajar bekalan lebih merindukan suasana belajar dalam kelas dibandingkan di luar kelas.
Dan Insya Allah dengan usaha dan pengharapan penuh maka yakin, suatu saat nanti keberhasilan pelajar Indonesia di tingkat dunia bukanlah lagi suatu hal yang MENGHERANKAN.

Andi Akbar Tanjung,
Ahad, 1 September 2013, at Hotspot Area UMM.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar