Hadiah "Solusi" untuk Milad Bangsaku yang Ke-69 (Hasil Diskusi IMM Raushan Fikr)

Sumber: www.idesainesia.com
17 Agustus 1945, tepatnya 69 tahun yang lalu, para perjuang bangsa ini melakukan berbagai kegiatan yang bertajuk pengorbanan untuk merebut sebuah harapan yang bernama "kemerdekaan". Semua pengorbanan yang mereka lakukan bukanlah sebuah pengorbanan yang hanya sekedar membalikkan telapak tangan, lebih daripada itu. Air mata sampai darah yang berlinang, penistaan sampai kemiskinan, dan bahkan kesakitan sampai kematianpun mereka hadapi. Sungguh perjuangan sejati.

17 Agustus 2014, sudah banyak cerita dan pengalaman yang bangsa ini telah lalui. Penjajahan, penistaan, pertempuran, dan masa otoritarian pun bangsa ini telah rasakan. 69 tahun bukanlah umur yang muda lagi, dengan pengalaman inilah sudah sepatutnya kita bisa lebih sedikit dewasa dalam melewati permasalahan bangsa hari ini dan di masa yang akan datang. Jepang dengan pengalaman bom atom yang mereka rasakan, sekarang telah bisa membuat robot yang canggih melebih bom atom. Malaysia dengan pengalaman "ngemis" ilmu ke Indonesia, sekarang membuat "gurunya" harus kagum dengan anak didiknya sendiri. Kita perlu sadar mereka menjadi bangsa besar karena "pengalaman" pahit yang mereka rasakan.

Dalam rangka memperingati hari kemerdakaan kemarin, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat "Raushan Fikr" FKIP-UMM, memiliki cara tersendiri. Diawali dengan bersih-bersih komisariat dengan tujuan untuk menyegarkan kembali tempat perjuangan kita. Sore harinya dilanjutkan dengan acara "Open House" untuk seluruh kader dari yang muda sampai yang tua. Yang tua berbagi cerita suka dan duka mereka dulu di lahan perjuangan bernama IMM dan semua cerita itu terasa seperti "novel" bertajuk berjuangan buat kami yang muda. Setelah shalat magrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan diskusi dalam rangka kemerdekaan bangsa yang bertema "Tangisan Ibu Bertiwi, Paska Kemerdekaan". Sungguh tema yang krusial di tengah keadaan bangsa yang terus diterjang permasalahan.

Saya akan sedikit bercerita hanya pada sesi diskusi di atas. Diskusi yang dipimpin oleh Mas Geo sebagai moderator dan yang hadir sebagai pemateri adalah Mas Adam. Diskusi berjalan cukup lancar, walaupun terkadang mengalami "mandet" di tengah jalan, akibat proses loading berpikir oleh para peserta diskusi tapi, secara keseluruhan lancar. Pada setiap diskusi yang diadakan tentunya perlu output yang bisa kemudian dibawa pulang oleh kader-kader yang hadir. Diantara beberapa hasil yang bisa saya bawa pulang, saya menggarisbawahi pada "sesi solusi" untuk Bangsa Indonesia di usianya ke-69 ini. Tentunya solusi-solusi ini hadir dari pemikiran para peserta yang hadir. Berikut saya merangkum (dengan bahasa saya sendiri) beberapa solusi (khususnya yang masih teringat) yang bisa kami tawarkan untuk bangsa ini.
  • Melaksanakan “Peran” Secara Maksimal (Imm. Zay “Ketum IMM”). Melihat banyaknya elemen yang ada di bangsa ini, ditambah lagi mengakarnya fenomena saling menjatuhkan antar satu elemen merupakan salah satu penyakit kronis bangsa ini. DPR menghakimi Presiden, Kader partai menjelekkan Ketua Partai, Petani kritis nggak jelas terhadap Professor, dan Mahasiswa yang demo terhadap pemerintah dengan cara merusak. Padahal semua permasalahan yang di bangsa ini akibat dari tidak berjalannya peran yang ada secara maksimal. Seandainya peran seperti DPR yang fokus pada fungsinya sebagai legislatif, Presiden sebagai eksekutif, Petani menghasilkan besar terbaik, Professor mengajar dengan bijak, Mahasiswa menjalan Tri Darma perguruan tinggi, dan Ibu rumah tangga mendidik anak di rumah dengan baik, tentu permasalahan di bangsa ini akan lebih ringan. Sehingga dari itu semua, kita perlu untuk kembali profesional dengan peran kita masing-masing.
  • Memperbaiki Sektor Pendidikan (Imm. Akbar “Sekbid RPK”). Melihat pendidikan merupakan induk dari segala aspek di kehidupan manusia, tentunya bisa menjadikannya sebagai salah satu aspek yang penting untuk sebuah bangsa. Jepang yang sempat hancur lebur akibat hadiah “petasan besar” (bom atom .red) dari pihak sekutu bisa bangkit kembali dan bersaing dengan sekutu hanya dalam waktu 30 tahun. Tak heran memang dengan pencapaian yang ditelurkan oleh pendidikan yang menjadi fokus bangsa matahari tersebut. Tentu Bangsa Indonesia patut belajar banyak dengan saudara se-asia kita ini. Sehingga kedepannya implementasi kurikulum 2013 perlu diperhatikan dan ditingkatkan untuk sektor timur Indonesia yang kata Imm. Jheb tidak kenal sama yang namanya komputer, proyektor, dan teknologi pendidikan lainnya.
  • Meningkatkan Kulitas Personal (Imm. Rum “PR {Penghuni Rantau}”). Masih rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa ini merupakan indikator penting yang perlu kita lirik sejenak. Permasalahan kualitas TKI misalnya, yang selalu mengundang perhatian di kalangan profesional bangsa ini. Ketika permasalahan SDM ini tidak kita perhatikan dan tidak kita perbaiki, maka kemerdekaan kita di Asean Ekonomi 2015 nanti akan terasa semakin jauh dan berat. Bagaimana tidak, ketika nantinya pekerja dari Singapur, Jepang, Malaysia, dan negara Asena lainnya masuk ke Indonesia, tentu akan semakin sulit bagi masayarakat Indonesia denga kualitas yang masih stagnan di kondisi krisisi SDM ini untuk bersaing dengan mereka dengan kualitas SDM yang cukup mumpuni. Sehingga kedepannya pemerintah mempunyai PR tambahan untuk kembali menata kualias SDM kita.

Sekarang pertanyaanya, mau dikemanakan "solusi-solusi' di atas...??, ketika saya diharuskan menjawab pertanyaan ini maka, saya akan mengatakan:
"Sekali lagi kembali ke peran masing-masing, kalau ternyata SBY membaca solusi-solusi di atas, maka tentu sudah seharusnya SBY menjalankan dengan maksimal solusi-solusi itu, kalau ternyata yang baca adalah "kyai" maka dengan doa dari mereka saya rasa cukup, dan kita sebagai mahasiswa, saya rasa peran "agen of change" adalah indikator penting"
Suasana Diskusi
Pemateri (Mas Adam)

Mas Galih lagi narzizzz :D


Immawati yang tiba-tiba "diam" -_-


Peserta diskusi lagi berpikir :D

at Komisariat of IMM "Raushan Fikr" FKIP-UMM
Malang, East Java, Indonesia
18 August 2014, 21:58. 

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar