Independensi dalam Media adalah "Fiksi".

Sumber: fredywp.blogspot.com
Tahun 2014 menjadi tahun pemilu buat Indonesia. Media A sampai media Z berlomba-lomba memasang label pada media mereka sebagai TV Pemilu. Meski 9 April (Pemilu Legislatif) telah berlalu, namun pada saat itu media tidaklah terlalu fulgar dalam menelanjangi ke-independensi-an mereka. Setelah KPU mengeluarkan nama partai pemenang dalam panggung coblos kemarin, barulah media kemudian mulai membuka dan menelanjangi diri mereka dari kata Independen. Terlebih ketika pengumuman koalisi dari kedua kubu presiden yang bertarung di 9 Juli kemarin keluar, media seakan tidak kenal malu lagi. Katanya ini adalah "kebebasan pers".

Yah.. udara kebebasan untuk media di Indonesia baru terhembus setelah Era Otoritarian yang diperakarsai oleh Pak Soeharto tumbang di tahun 1998. Dulunya ketika wartawan membuat berita salah tentang petinggi dan memihak, itu sama saja mereka akan membuat istri mereka janda dan anak mereka jadi yatim. Sungguh kejam. Namun, setelah semua masa pahit itu berlalu, media bak disiram air segar dari surga, menjadi cukup lega. Berbagai media pun mulai bebas membuat berita, mulai enak meliput sana sini, dan wartawan mu dijamin hidupnya dengan UU Pers. Sungguh nikmat.

Setelah masa orba tumbang, media mulai merasakan kemerdakaan mereka. Kemerdekaan yang kemudian diberikan dalam bentuk "kebebasan" dalam meliput berita. Namun, yang namanya kebebasan bawaannya selalu kenikmatan, sehingga terkadang membuat orang lupa daratan. Inilah yang kemudian terjadi pada media di Indonesia. Saya cukup tertarik dengan tulisan Pak SBY, di dalam bukunya yang berjudul "Selalu Ada Pilihan", tepatnya di bagian 7, halaman 54. Tulisan itu diberi judul "Sekali Merdeka, Merdeka Sekali", yang membahas bagaimana media dipandangan SBY. Sesuai dengan judul tulisan tersebut, SBY berusaha mengatakan bahwa media di Indonesia, ketika mendapatkan sekali kemerdekaan, mereka seakan sangat merdeka sekali dalam segala hal, dan kalau saya sih "yes".

Saya kemudian menarik kesimpulan dari beberapa tulisan dan pendapat orang tentang media di Indonesia, bahwa kebebasan yang diberikan kepada media, kemudian ditafsirkan secara liar dan liberal terhadap pemilik media. Semua penafsiran tersebut kemudia berdampak besar terhadap isi berita dan pola pemberitaan media tersebut. Kita ambil contoh saja, ketika pemilu 2014, dimana saat itu media benar-benar telah menggantung pakaian "Independen" mereka. TV One, Metro TV, dan MNC TV Group seakan anak TK yang berebutan boneka. Sungguh memalukan.

Berbicara masalah independensi media. Saya punya cerita tentang Metro TV, yang tahun lalu memilih kampus saya, UMM sebagai tuan rumah Metro TV Goes to Campus 2013, yang juga dirangkaikan dengan Mata Najwa on Stage. Di hari kedua acara Metro TV di kampus saya, ada agenda pelatihan jurnalistik. Dimana pada pelatihan tersebut reporter senior mereka (Prabu Revolusi, Sumi Yang, dan Putri Ayuningtyas) dipaksa turun gunung untuk menjadi pemateri. Pada saat Sumi Yang membawakan materi, di sesi tanya jawab ada mahasiswa yang bertanya tentang "Independensi" Metro Tv sebagai TV Berita yang dituani oleh Surya Paloh, dan jabawan Sumi Yang kurang lebih seperti ini:
"Metro TV, sebagai tv berita akan Independen dalam pemberitaannya, karen mengingat Surya Paloh telah mengundurkan dari Pimpinan Redaksi, yang kemudian digantikan oleh Putra Nababan"
Cukup percaya juga, sehingga setelah itu saya kemudian cukup semangat menjadi Metro TV menjadi sumber berita saya, sekalipun saya tau kalau Surya Paloh tetap mpunya dari Metro TV. Mata Najwa kemudian menjadi program favorit saya. Namun, setelah memasuki masa Pemilu kemarin, saya rasanya gregetan sama nih media. Jadi tidak sabar tunggu Metro TV datang lagi ke UMM, terus bertanya ulang tentang pengertian Independen.

Tidak independennya media ternyata tidak hanya terjadi pada rana politik. Agama pun ikut menjadi korban. Seperti yang dikatakan oleh sebuah postingan di Kompasiana, dimana postinga tersebut mengatakan Metro TV adalah Media Anti Islam. Saya disini bukan untuk menjelekkan Metro TV tapi, juga media sekelas TV One, satu-dua lah mereka semua. Ada juga postingan menarik yang mencoba untuk menakar independensi media di Indonesia.

SOLUSI
Pertama, semua media di Indonesia sudah saatnya di awasi seketat mungkin dalam memberikan berita, terlebih kepada "media swasta" yang dimiliki perorangan. Mengingat media swasta adalah media yang sangat fulgar dalam kepemilikannya, dan cenderung mendewakan pemiliknya. 

Kedua, media milik negara seperi TVRI, sudah seharusnya berbenah dari segala aspek, utamanya aspek penampilan dan jaringannya. Karena mengingat penampilan TVRI dari tahun ke tahun tidak memiliki sepak terjang yang baik. Dari segi jaringan pun masih terbilang cukup lemah, karena dibeberapa daerah jaringan TVRI "tidak" terdeteksi.

Ketiga, sudah saatnya media milik negara dikembangkan dan diutamakan penyebarannya di Indonesia. Sehingga kedepannya TVRI memiliki cabang seperti TVRI Sport, TVRI for Child, dan kalau perlu Infotainment TVRI diadakan dalam rangka pembumian TVRI di semua elemen masyarakat. Apalagi mengingat saat ini TVRI hanya menjadi tontonan iklan ketika sinetron Ganteng-ganteng Srigala (GGS) di SCTV sedang break.

Ketika media masih dikuasai oleh swasta yang marak dengan kepentingan maka, "Independensi dalam Media adalah Fiksi".

Malang, East Java, Indonesia.
August 15 2014, 21:37. 

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar