Kepentingan Politik = "Kotor" dalam Demokrasi

www.infopemilu.com
2014 merupakan tahunnya pilitik khususnya di Indonesia, namun, untuk saya pribadi tahun 2014 bukan hanya sekedar tahun politik buat Indonesia, tapi juga tahun politik buat kampus saya Universitas Muhammadiyah Malang. Pada tahun ini pulalah, saya belajar tentang sebuah strategi perploitikan yang sangat “sesuatu” yang sering didegungkan dengan sebutan “kepentingan”.

Tepatnya bulan Juni 2014 kemarin disaat Ujian Akhir Semester (UAS) berlangsung, kampus saya, UMM mengadakan perhelatan akbar, yang disebut PEMIRA (Pemilu Raya), yang dimana kegiatan ini merupakan miniatur dari Pemilu di Indonesia yang telah kita lewati bersama. Pada masa-masa ini, seperti halnya di Indonesia, sahabat kita bisa menjadi lawan, senior kita bisa menjadi musuh, dan orang yang kita kagumi pun bisa menjadi “penghianat”. Disinilah kemudian saya buuuaaanyaaakk belajar tentang dunia perpolitikan, dan saya juga belajar tentang penyebab akan perubahan seseorang, sekalipun ini hanya sekedar miniatur.

Mulai dari kawan menjadi lawan, kagum menjadi khianat, dan nasihat menjadi intimidasi, saya lalu ketika “harus” menjabat sebagai Ketua KPRF (Komisi Pemilu Raya Fakultas) FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan), yang dimana ketika kita berbicara Indonesia, KPRF itu setara dengan KPU (Komisi Pemilihan Umum) di tingkat provinsi. Hebat kan..??, laughing

Mendapat jabatan ini pada dasarnya “uuueeenaaakk bingiit” karena hidup kita selama kurang lebih 10 hari menjelang hari H, akan ditanggung oleh Pemerintah dalam hal ini Dekanat Fakultas, mulai dari makan sampai dengan mandi (lumayanlah untuk program hemat.., laughing). Tapi, jangan berpikir hidup saya itu di hotel bintang lima, setengah bintang aja nggak sampai kali yah..??, laughing tapi secara akomodasi saya, itu sudah cukup lumayan untuk kalangan anak perantau semacam saya ini.
Yah.., itu untuk masalah akomodasi saya dan teman-teman yang secara keseluruhan kami ada 15 orang pimpinan KPRF dan 3 orang Dewan Kehormatan (DK). Berbeda lagi ketika kita berbicara masalah-masalah yang lain, yang dimana, dengan seketika dapat membayar dan bahkan menghilangkan segala ke-uuuueeenaakk-an di atas. Sungguuh sangat disayangkan. crying

Namun, disini saya tidak akan bercerita tentang “penderitaan” saya dan teman-teman di KPRF, nantilah di postingan yang lain. Disini saya akan lebih fokus pada sesuatu yang disebut “kepentingan”. Berbicara kepentingan dalam politik seperti menanyakan 1+1 kepada seorang Professor Matematika yang telah “gila”. Yah.., dia.., saya.., kamu.., kita.., mereka.., tau apa itu kepentingan khususnya dalam politik, tapi seakan hal tersebut tabu untuk diperbincangkan (silet.. laughing), haram untuk diungkit-ungkit, dan dosa untuk dipermasalahkan. Seperti Professor “Gila” saja kita ini.

Kepentingan inilah yang kemudian dipegang “teguh” oleh orang-orang yang pro terhadapnya. Mulai dari kepentingan yang jelek sampai yang baik, semuanya ikut bertarung dan berkompetisi di gelanggang politik bernama “pemilu”. Kepentingan yang jelek tidak usahlah saya bahasa karena sudah cukup jelas, niat dan cara yang akan dia tempuh. Disini saya akan mempermasalahkan “kepentingan baik” yang terkadang membuat ku miris dan gelisah.

Segala hal yang ber-title baik, pada dasarnya harus diperjuangkan dengan Niat dan Cara yang baik pula, agar pencapaiannya juga baik (Pesan Guru Biologi ku, Ibu Rahma). Pencapaian baik disini inilah yang terkadang dianggap dan ditafsirkan salah oleh para perjuang kepentingan baik tadi, mereka menafsirkannya hanya secara “horisontal”. Banyak dari mereka yang menafsirkan pencapaian baik itu ketika orang yang diperjuangkannya di pemilu bisa sukses di mata masyarakat, membuat program yang pro rakyat, dst. Namun, pernah tidak kita berpikir secara “vertikal”...??, apakah niat dan cara yang kita tempuh ini sudah diridho oleh yang diatas..??.

Disini saya tidak mau tampil bak pahlawan lagi, apalgi tampil seperti ustadz.., tidak. Saya mengangkat ini, karena saya melihat para pejuang “kepentingan baik” tersebut, tidak sedikit yang seiman dengan saya, tidak sedikit yang sepemahaman dengan saya, dan tidak sedikit yang seorganisasi dengan saya. Kita ambil contoh saja Parpol yang berlebel Islam, yang juga ikut berkoalisi di Kubu Pak Prabowo waktu pemilu presiden kemarin. Saya sadar dan tau apa yang Partai tersebut perjuangkan adalah “baik”, setalah melihat kader dan sistem perkaderannya yang cukup membuat saya iri. Namun, seperti yang diakui oleh salah satu kadernya dalam sebuah posatingan di Kompasiana (silahkan di kelik untuk pembuktian), yang dimana dia mengatakan, bahwa “cara” yang digunakan oleh  “kader-kader” mereka (mungkin tidak semua) dalam berkampanye sangatlah jauh dari apa diajarkan dalam halqoh atau majlis tarbiyah mereka sendiri.

Dari apa yang telah saya alami dan saya amati dalam dua pertarungan politik di Indonesia dan Kampus saya. Hal-hal yang lakukan oleh kader partai di atas, tidaklah terjadi dengan keinginan mereka. Saya berani mengatakan itu karena dorongan “Kepentingan”.

Sehingga, yang ingin saya katakan, bahwa terkadang ketika kita berbicara kepentingan dalam dunia berpolitik. Semua itu cukup untuk membuat kita antri di depan loket Rumah Sakit Jiwa. Bagaimana tidak..??, ketika kita harus dihadapkan pada pilihan untuk memberikan jalan yang mulus pada kepentingan yang baik tapi, dengan cara yang buruk, atau bahkan orang yang menawarkan dan memerintahkan cara tersebut adalah orang yang cukup kita percayai. Bisa stres kita kalau tidak pandai-pandai mengambil pilihan.

Dalam dunia perpolitikan, ketika kita dihadapkan terhadap dua pilihan sulit semacam di atas, saya hanya bisa mengatakan, “follow your heart...!!”, dan ketika pilihan itu melawan arus yang dikehendaki oleh lingkungan kalian, maka, yakinkan diri kalian, kalau inilah jalan yang benar-benar baik secara horisontal dan verital, moral, etika, dan nilai.

Membahas politik, membuat ingatan saya kembali melayang ke masa-masa dimana saya mengikuti Pelatihan Ideologi, Politik, dan Retorika (Ideopolitor) yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kosirariat “Raushan Fikr” FKIP UMM (walaupun awalnya terpaksa ikut. laughing). Ada “buuuaaanyaaak” pelajaran yang saya dapatkan yang bisa membuat keterpaksaan saya itu terobati. Ada satu pernyataan dari seorang pemateri yang cukup senior, yaitu Mas Rifki (Alumni FKIP UMM), beliau mengatakan seperti ini:
“Dalam dunia politik di Indonesia, hanya Dunia Perpolitikan Mahasiswa yang bisa saya katakan masih Baik dan Bersih”
Diakhir pelatihan tersebut, saya membawa pulang pernyataan pemateri tersebut dengan pembenaran yang dilakukan oleh pikiran dan hati saya. Namun semua itu berubah tat kala negara api laughing "waktu" menyerang dan memberikan saya masukan pemikiran dan pengalaman yang cukup untuk merubah haluan saya dari pernyataan pemateri tersebut. Coba tengok penyataan saya untuk "Kepentingan" dan "Politik".
"Selama Sistem Demokrasi ini bertahan, maka tidak akan ada kebaikan yang terlahir. Anda terlahir kemuka bumi ini sudah dalam keadaan "kotor", maka jangan tampil "suci" dipanggung "Politik".
Mungkin buat orang-orang yang Demokrasi Lovers, akan sedikit naik pitamangry, tapi ingat, ini negara "Demokrasi", saya bebas berkata apa. no talking

Makassar, South Sulawei, Indonesia
August 03, 2014. 19:52.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar