Khilafah VS Demokrasi dalam Pengambilan Keputusan.

Berbicara mengenai "Khilafah" dan "Demokrasi", mungkin akan membuat sebagian orang akan naik pitam. Namun, karena saya hidup di sistem yang menjunjung tinggi "kebebasan" jadi saya rasa amanlah untuk berbicara, apalagi di blog saya sendiri. happy Disini saya akan membahas mengenai satu pokok pembahasan mengenai "Pengambilan Keputusan" dalam sistem pemerintahan yang saya "kenal", yaitu "Khilafah" dan "Demokrasi". Mungkin kedepannya saya akan membahas kedua sistem ini dari berbagai aspek dalam pemerintahan. Berhubung saya kuliahnya di Jurusan Pendidikan Bhs. Inggris, jadi apa yang akan anda baca ini adalah tentang sistem pemerintahan dari otak seorang bocah nakal yang agak sedikit berani beropini diluar jurusannya. big grin

Sebelum penjelasan tentang pengambilan keputusan, sebaiknya mungkin kita pahami dulu dua sistem di atas. Namun, karena saya merasa perlu untuk mengajak teman-teman sekalian untuk sedikit berteori sendiri ataupun mencari sendirilah tentang sejenis apakah itu Demokrasi dan Khilafah. Jadi, mungkin saya akan langsung saja memberikan opini saya tentang hal di atas.

Dalam pengambilan keputusan, tentu "Demokrasi" akan kembali kepada filosofinya sendiri yaitu, "Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat". Sehingga, cukup jelas kalau dalam pengambilan keputusan "Rakyat" adalah "Tuhannya". Berbeda dengan Demokrasi, "Khilafah" tampil sebagai sistem yang berfilososi ketuhanan yang dimana tuhan di sini mutlah tuhan bukan lagi rakyat, yaitu Allah Subahanahu Wata'ala. Sehingga, dalam pengambilan langkah, kebijakan, dan keputusan harus kembali kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijtima'.

Sekarang saya akan mengajukan pertanyaan kepada kedua sistem di atas, yang akan saya galih sendiri sesuia otak Bahasa Inggris saya. "Bagaimana menghasilkan "satu" keputusan dari 200 Juta lebih otak dan hati yang berbeda..??". Mari tengok pembahasan saya di bawa.

Pertanyaan ini  buat "Demokrasi", akan memunculkan pemikiran orang yang "agak" bijak seperti ini, "dengan suara terbanyak dan yang kalah harus bisa bijak". Sebenarnya tidak ada yang salah dari perkataan tersebut, namun menurut saya tidak juga "mutlak" kebenarannya. Ibarat jejaka  yang ditolak cintanya, tidak semudah itu mengatakan, "sudah.., masih banyak yang terbaik kok". Tentu ketika kita berbicara masalah yang terbaik mungkin banyak, tapi ini masalah "hati". Ketika kita yakin si "A" adalah yang terbaik, ternyata si "B" yang menang, tentu tidak mudah untuk menerima. Sehingga, wajar ketika pendukung Pak Prabowo mendukung penuh sikapnya untuk menuntut di MK.

Menyatukan suara 200 Juta rakya Indonesia, kalau dalam dunia pendidikan diperlukan Kompetensi Pedagogik untuk mengatur siswa dengan karakter berbeda dalam kelas. Yah, itu kalau guru dalam kelas berisi 30-40 siswa. Sedangkan dalam konteks ke-Indonesia-an ini sangat "jaaaaauuuuuuhhh" berbeda (200 Juta boooo..). Sehingga, siperlukan kekuatan "tersendiri".

"Khilafah" muncul sebagai sistem yang menjadikan "Allah SWT" sebagai sumbernya dalam segala hal, begitu pula dengan pengambilan keputusan. Dengan sifat ketuhanan-Nya yang Maha Sempurnah, dan tiada lagi diatas dari-Nya, sehingga keputusan terbaik tentu "Mutlak" berasal darinya. Soal hati, Allah adalah empunya dari hati, Dia Maha Mebolak-balikkan hati, yang tadinya cinta si "A", besok cinta si "B". Sehingga perbedaan otak dan hati 200 Juta lebih rakyat Indonesia, tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan "2 Miliar Lebih" manusia yang telah disatukan hati dan otaknya ke dalam ISLAM oleh Allah SWT.

Dan untuk sekedar menambah wawasan tentang "Demokrasi" dan "Khilafah", coba kita lihat, tabel di bawah ini,

Sumber: yanuarariefudin.wordpress.com


Solusi...??, saya rasa solusinya cukup keluar dari pemikiran kita masing-masing, karena nanti kalu saya kasih solusi malah terlalu jauh sok tau saya ini. nail bitingwinking Dan munking cukup dulu untuk kali ini, kalau merasa kurang puas yah.., komen dan dimaklumi aja yah. winking

Makassar, South Sulawesi, Indonesia.
August 6th, 2014. 10:33.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar