Pengalaman Terbang Bersama "Lion Air"

Memilih kuliah sambil merantau di kampung orang, tentunya memiliki kesan dan resiko tersendiri. Kalau resikonya tentu harus berpisah dengan keluarga tapi, tak apalah wong sudah gede' kok big grin. Nah.., kalau masalah kesan, tentunya sering terbang (kayak burung gitu big grin), walaupun terkadang terbang itu menjadi resiko. Buat para perantau, apalagi merantaunya antar pulau, menjadi burung yang terbang-terbang, seakan menjadi bagian hidup. Tentunya akan menjadi cerita tersendiri ketika mendapat pengalaman baik maupun buruk ketika terbang.

Pengalaman baik maupun buruk ketika terbang, biasanya dipengaruhi oleh maskapai yang kita pilih. Kalau di Indonesia kita mengenal maskapai penerbangan seperti. Garuda, Sriwijaya, Lion Air, Air Asia, Citylink, dsb. Nah..., kalau masalah reputasi dan siapa yang terbaik, saya rasa kita semua cukup bangga dengan Garuda Indonesia. Namun, kali ini saya tidak akan bercerita tentang Garuda Indonesia, saya akan bercerita tentang Lion Air.

Memilih Lion Air sebagai sayap saya untuk balik ke Malang, tidaklah mudah. Mengingat sebuah cerita buruk yang pernah saya baca di salah satu postingan Facebook. Membaca postingan tersebut membuat saya cukup bad thinking terhadap Lion Air. Namun, setelah mencari harga tiket di traveloka.com, saya cukup galau, karena untuk saat-saat seperti ini, Lion Air menjadi maskapai termurah, entah karena postingan di Facebook tadi, yang telah di share lebih dari 18 ribu orang, sehingga membuat Lion Air tekuk lutut kepada semua pelanggannya. Keluarga yang juga pas-pasan dalam biaya, tentunya menjadi pertimbangan saya untuk memilih Lion Air, dengan menelan mentah resiko yang akan saya hadapi, demi mengejar harga tiket yang murah.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 5 sore untuk penerbangan 9:35 malam. Setelah, sampai di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, saya menunggu selama kurang lebih 2 jam, sampai akhirnya check in pun dibuka. Masuk ke ruang tunggu di Gate 4, sekitar 1 jam dengan fasilitas wifi yang ada membuat saya cukup nyaman. Tiba-tiba terdengar pengumuman:
"Disampaikan kepada penumpang pesawat dengan nomor penerbangan JT 0701 lion Air, dengan tujuan Surabaya agar menunggu di Gate 3"
Saya mulai khawatir dan menaruh curiga dengan Lion Air. Apalagi saya langsung mengingat postingan Facebook yang saya cerita di atas. Namun, setelah menunggu sekitar 30 Menit, terdengan pengumuman lagi:
"Disampaikan kepada penumpang pesawat dengan nomor penerbangan JT 0701 lion Air, dengan tujuan Surabaya agar memasuki pesawat melalui Pintu 3"
Whaaattt...??, masuk pesawat, saya kaget. Bukan karena telat, tapi justru sebaliknya. Saya melirik jam, terpampang jelas jam menunjukkan pukul 8:40 malam. Saya bertanya dalam hati, "bukannya di tiket terpampang jam 9:35..??". Tapi tak apalah, mungkin 9:35 itu pesawat sudah tidak berpijak di tanah lagi. Jadi, kesimpulan pertama, Lion Air cukup On Time.

Selanjutnya, setelah berada dalam pesawat, ternyata kursinya cukup sempit, tapi lumayan lah dibandingkan Air Asia (pendapat konsumen, dilarang marah talk to the hand). Sebelum berangkat saya berharap agar nantinya saya bisa tidur. Ternyata harapan saya tertiup angin entah kemana. Saya tidak bisa tidur, suara mesin pesawatnya terlalu nyaring, dengan guncangan yang cukup mengganggu. Jadi, kesimpulan kedua, Lion Air kursinya cukup sempit, dengan tingkat kebisingan pesawat yang tidak bisa membuat "saya" tidur.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam, akhirnya saya sampai di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Dengan pesawat yang penuh dengan penumpang, tentunya Lion Air harus menyediakan bus penjemput sebanyak 3 buah.

Sebagai kesimpulan, terbang bersama Lion Air, saya rasa cukup baguslah. Semoga bisa menjadi refrensi penerbangan pembaca sekalian.

Malang, East Java, Indonesia
at Hotspot Area UMM
August 14th 2014, 21:51.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar