Plagiat dalam Menulis, Why not...??,

http://bisnisukm.com/
Kata "plagiat" atau yang dalam Bahasa Inggris, dikenal dengan sebutan plagiarism , merupakan istilah yang sangat tidak populer dikalangan teman sebaya saya waktu kelas 1 SD dulu, apalagi untuk kalangan ibu-ibu lorong depan rumah ku yang biasa mangkal untuk sekedar sharing tentang banyak hal mengenai suami orang laughing. Yah.., itulah kata “plagiat” yang ketenarannya hanya biasa didengungkan oleh banyak kalangan akademisi (mahasiswa .red), utamanya mahasiswa yang sudah kebelet nikah namun belum “aqiqah” untuk sekedar tambahan kata dibelakang namanya (wisuda .red).

Banyak orang (akademisi .red) yang mengatakan bahwa plagiat merupakan suatu kata yang berwujud tindakan terlarang dalam dunia pendidikan khususnya dalam area kepenulisan. Namun, disini saya ingin mencoba untuk tampil bak pahlawan yang sangat anti-maenstream (sekalipun mungkin gagal, hehehe.., laughing), saya ingin mencoba melihat, memandang, memperhatikan, dan mengintip kata plagiat dari sudut atau sisi yang berbeda.

Hampir semua orang (berharap ada orang semacam saya laughing) yang saya maksud di atas berpikir bahwa tindakan plagiat yang banyak dilakukan oleh kalangan pemerhati buku saat “ujian” (nyontek .red) merupakan tindakan sangat “menjijikan” dari sudut pandang tindakan copy-paste tulisan orang. Padahal, seandainya sang pengajar (colek dosen dan guru) mau sedikit berbaik hati untuk memikirkan cara plagiat yang baik dan mengajarkannya kepada para (maha)siswanya, maka saya yakin, nantinya saya bisa sedikit tenang dengan skripsi saya yang tidak akan ada duanya.

Plagiat yang baik, emang ada..?, saya rasa pertanyaannya kurang greget, bagaimana kalau pertanyaannya seperti ini, Plagiat yang baik, bagaimana caranya..?, saya rasa cukup profesional.

Terlebih dahulu kita harus mengatur pola pikir kita tentang plagiat itu sendiri dan mencoba untuk menselaraskan antara plagiat yang ada di kepala kita semua, karena pola pikir itu satu-dua lah dengan yang namanya ideologi buat orang-orang yang nasionalis, atau aqidah buat orang-orang yang religius. Jadi, plagiat yang kebanyakan dilakukan dan mendarahdaging di otak kebanyakan orang adalah plagiat sebuah karya yang telah berbentuk, atau telah menjadi sebuah telur atau anak dalam dunia reproduksi, padahal ada satu hal yang lebih penting dari itu semua, dimana hal itu pada dasarnya memang tidak terlihat dan jarang dirasakan.

Dalam dunia ke-reproduksi-an, saat sperma yang berjuang keras berenang tanpa menghirup udara (padahal calon manusia) untuk melamar sang induk telur, disitu ada pelajaran penting tentang semangat dan perjuangan. Nah.., kedua hal inilah yang tidak disadari oleh para penjual anak misalnya, yang hanya menerima jadi saat anak itu telah keluar dan menjualnya tanpa sadar ada yang tersakiti, tanpa sadar akan besarnya sebuah perjuangan, dan tanpa sadar akan pentingnya setetes semangat.

Pola pikir semacam penjual bayi itulah yang kebanyakan orang pakai dari sudut pandang plagiat tersebut, sudut pandangan yang sangat instan daripada mie instan. Padahal, ada jiwa/rasa yang bersemayam dibalik plagiat itu, sebuah pola pikir akan plagiat yang sesungguhnya. Ketika seseorang melihat sebutir mutiara putih, yang dimana itu ditempa dengan perjuangan dan semangat, sudah seharusnya (atau mau pake kata “wajib”..?) bagi orang yang bijak, tidak akan meniru atau meplagiat untuk membuat mutiara putih itu sendiri, karena itu merupakan suatu yang telah pasti adanya, cobalah untuk meniru yang tak terlihat itu, SEMANGAT dan PERJUANGAN, dengan demikian inilah yang saya maksud plagiat yang baik.

Inilah yang kemudian ingin saya perjuangkan, ketika kemudian saya bersemangat untuk menulis di blog ini. Padahal, ada banyak blog yang bisa saya plagiat dengan mudahnya, namun, membaca blog orang-orang yang bercerita tentang perjuangan beasiswa mereka dengan sangat manisnya, membuat saya untuk semangat dan berjuang untuk membuat tulisan dengan tarian jari sya sendiri di atas keyboard, bukan dengan tarian jari mereka ataupun kalian.


Makassar, South Sulawesi, Indonesia
August 2nd, 2014. 20:27

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar