Menulis; Jalan-Ku Menuju "Syahid".

Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..,

Beberapa waktu yang lalu tepatnya di akhir bulan september kemarin, saya sempat membuat sebuah tulisan "nakal" yang menimbulkan kontroversi dan sudut pandang yang berbeda-beda di kalangan Muhammadiyah. Pada dasarnya tulisan tersebut tidaklah terlalu bermakna manakalah tidak mempermasalahkan "Muhammadiyah" dan "UMM". Andai saja tulisan itu saya terbitkan era kepemimpianan Soeharto dan sedikit saja menyinggung tentang beliau, maka sudah jelas masa depanku akan berakhir dimana.

Sebelum menerbitkan tulisan tersebut, saya sudah berpikir matang akan resiko yang bisa saja muncul bahkan persiapan untuk "mati" pun sempat terbesit di kepala saya. Diperparah ketika saya men-share tulisan tersebut ke Grup Facebook Muhammadiyah rasanya seperti melakukan pencurian di warung depan kost dan ketahuan warga sekampung. Namun, tidak sampai disitu saja, karena saya merasa masih ada yang mengganjil akhirnya saya mengirimkan tulisan tersebut kepada situs www.sangpencerah.com. Finally, dalam hitungan jam tulisan tersebut menimbulkan keributan "kecil" khususnya di kalangan Muhammadiyah dan akademisi di UMM.

Pada awalnya saya berpikir kalau tulisan tersebut tidak akan mampu menyedot "pengungsi" (pembaca .red) lebih dari 200 orang, ternyata fakta berkata lain, tulisan tersebut mampu menarik pembaca lebih dari 2000 orang, awesome... Ditanya soal kenapa bisa...??, mungkin saya akan men-share-nya dilain waktu, yang jelas ini bukan manipulasi ala-ala anak IT apalagi software-software ajaib yang sering digunakan di FB dan Twitter untuk menyulap jumlah like pada suatu postingan.


Disaat tulisan ini booming, saya sempat diingatkan oleh salah seorang senior saya dulu di pondok, bahwa bisa jadi saya akan menjadi "buronan" buat beberapa orang, khususnya buat birokrat kampus UMM. Lebih parah lagi beliau menginginkan kabar kalau saya sudah di-DO dari kampus nantinya. Tidak bisa saya pungkiri kalau rasa khawatir akan hal-hal tersebut tentunya sempat melintas bahkan mampir dipikiran saya. Namun, sekali lagi fakta mengingkari semua pikiran-pikiran tersebut dan meyakinkan saya dengan brand ala Liverpool FC "You'll Never Walk Alone".

Menulis pada dasarnya hobi baru buat saya, mengingat saya sangat payah dalam hal mencatat pelajaran kuliah. Namun, semua berubah sejak "Wilis" dan "Gramedia" menyerang saya dengan buku-buku murah dan kerennya sehingga memaksa saya menekuni saudara menulis yaitu Membaca. Pada awalnya pun saya mencoba untuk menekuni dunia kepenulisan yang ber-genre tutorial dan pengajaran Bahasa Inggris, namun entah mengapa, saya mulai tertarik dengan tulisan yang berbau kritikan.

Menekuni dunia kepenulisan ber-genre kritik membuat saya harus sadar akan resiko yang menanti di depan sana. Orang sekelas HAMKA saja bisa dipenjara karena tulisan kritiknya, apalagi kalau hanya mahasiswa semester 3 seperti saya. Namun, rasa-rasanya ada kalimat bijak yang cukup populer berbunyi "Katakanlah Sesuatu yang Benar sekalipun itu Pahit" dan kemudian cukup untuk membimbing jemari saya untuk terus mengetik tulisan.

Menjadi penulis yang sedikit "nakal" dengan kritikannya tentu haruslah sadar akan satu hal. Hal yang sangat penting yang juga merupakan pasangan sejati dari kritik. Ketika "saya" adalah pasangannya "dia", "atas" padangannya "bawah", "kanan" pasangannya "kiri", dan "Jokowi" pasangannya "JK", maka "Kritik" pasanganya "Solusi". Setian insan yang bijak dalam memberikan kritik, maka pasti sadar akan pentingnya solusi, karena sengan solusi-lah korban kritik ada bisa sedikit tidur nyenyak. Sekalipun terkadangn dibeberapa tulisan saya sendiri solusi yang saya tawarkan tidaklah selalu ditangkap oleh pembaca, namun disinilah letak pentinganya "kolom komentar".

Dalam memahami dan menangkap kritikan, tentunya orang memiliki paradikma dan penyikapan yang berbeda. Ketika Pak Soeharto akan marah dengan kritik dari pers dan ketika Nabi Muhammad sabar akan kritikan dari orang buta Yahudi, merupakan sedikit gambara manusia di dunia ini. Sehingga untuk menghadapi orang jenis jenis orang yang sangat marah dan anti akan kritik maka saatnya saya bilang "Menulis; Jalan-Ku Menuju "Syahid"."


24 Oktober 2014
Balai Desa Tawang Argo, Malang.
Suasana DAD II IMM Komisariat "Raushan Fikr" FKIP-UMM

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar