Politik Muhammadiyah dan Kabinet Jokowi-JK

Sumber: www.sangpencerah.com
Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tepat 26 Oktober kemarin katanya (karena tidak sempat nonton) Presiden Jokowi telah mengumumkan susunan "selir-selir-nya" (menteri. red) di istana negara. Kemudian tersebutlah 34 nama manusia yang sebagian sudah saya tau, sebagian cukup profesional, satu lagi cukup nyentrik dengan label "wanita perokok dan bertato". Tentunya farian rasa dan gaya dari kalangan menteri Kabinet Kerja sudah diramu dengan keahlian dan kerja yang sangat keras dari Pak Jokowi, dengan harapan benar-benar tanpa interfensi dari "bunda" seperti gambar di bawah.


Farian rasa dan gaya yang ditampilkan oleh menteri-menteri Pak Jokowi tentunya menimbulkan farian opini juga. Ada yang profesional dan ada yang kalangan partai, yang Rektor dan ada pengusaha, dan ada yang NU namun "tidak" ada yang Muhammadiyah. Saya sebagai kader Muhammadiyah tentunya timbul pertanyaan "ada apa gerangan..??"

Saya mencoba untuk "membobol" peta politik Muhammadiyah pada musim politik 2014 ini. Hasilnya saya menemukan peta perpolitikan yang sangat cantik dan manis (versi otak anak Bahasa Inggris). Bagi orang-orang yang cukup up to date dan "kepo" soal Muhammadiyah tentunya tau siapa itu Pak Amien Rais dan Pak Syafii Ma'arif. Yap.., mereka manta "ketum" PP Muhammadiyah.

Pada musim politik 2014 kali ini, ternyata mereka berada di dua kubuh yang berbeda. Pak Amien dengan Koalisi Merah Putih-nya dan Pak Syafii dengan Koalisi Indonesia Hebat. Secara manusia dan dengan pemikiran "cilik" saya pun heran, kok memiliki ideologi yang sama dalam Islam namun berbeda dalam politik. Jangan bilang soal agama tidak mempengaruhi politik seseorang. Kalau memang begitu saya hanya bisa bilang "entahlah..".

Dengan sedikit keberanian saya mengatakan kalau ini semua sudah menjadi setting-an Muhammadiyah untuk "menjaga eksistensinya" di ranah kebijakan politik. Bahkan umur 1 Abad lebih yang telah dijalani Muhammadiyah tentunya tidak lepas dari bantuan politik, sekalipun Muhammadiyah dengan tegas menyatakan diri sebagai anti politik praktis. Penempatan Pak Amien dan Pak Syafii tentunya untuk mencari jalan aman untuk dua kubuh politk 2014 (dengan sedikit keberanian lagi). Namun, fakta berkata lain, Pak Syafii "belum" menunjukkan pengaruhnya dalam Tim Transisi Jokowi saat ini, khususnya dalam penyusunan Kabinet Menteri.

Ketika saya membaca salah satu postingan di Sang Pencerah (website dakwah Muhammadiyah), yang dimana membahas masalah tidak adanya Kader Muhammadiyah dalam Kabinet Jokowi, saya merasakan ada sesuatu dengan jawaban Pak Syafii ketika diwawancara mengenai hal tersebut. "Wait and see. Kita tunggu saja. Kita nggak usah dulu bereaksi" apakah maksudnya berharap di masa reshuffle...??, dan "Sudahlah, sudahlah. Kita sudah maksimal" kita (orang Muhammadiyah)...??, Pak Syafii dibantu siapa...??. Jawaban-jawaban Pak Syafii kuran memuaskan saya, namun sedikit bijaklah dengan katanya "Muhammadiyah kan lebih tua dari negara ini. Muhammadiyah lahir 33 tahun sebelum negara ini lahir. Jadi kita harus lebih dewasa."

Kemudian saya ingin sedikit menarik usaha-usaha Pimpinan Kampus saya sendiri dalam hal mendekati Pak Jokowi.

  • Ketika masa perhitungan suara oleh pihak KPU, website UMM, menjadi satun-satunya website kampus di Indonesia (yang saya ketahui) yang menampilkan hasil suara secara update
  • Ujian Akhir Semester kemarin diliburkan untuk kedatangan Bunda (Ibu Megawati), dan menggeser baliho besar "Olimpicad" dengan mudahnya.
  • Bahkan Wisuda UMM kemarin rencanannya akan menghadirkan Pak Jokowi, namun entah mengapa tidak jadi, padahal Spanduk Raksasa UMM sudah siap menyambutnya.
Muhammadiyah dan Politik Bangsa.., :D


27 Oktober 2014
Hotspot UMM, Malang

Andi Akbar Tanjung

2 komentar:

  1. wisuda ngundang Jokowi yang waktu masih Capres? ,..

    merendahkan martabak dan terang bulan itu namanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ,ih.., terpilih mi tawwa ka' i2 waktu..,
      ,klu tidak salah setelah keputusan di MK juga.., :D

      Hapus