Saya, Buku, dan Wilis

Sumber: www.acehtraffic.com

Kota Malang sedang memasuki satu musim yang terkadang dirindukan oleh kaum "pujangga sejati" dan "penikmat cinta". Hujan. Yah, salah satu musim yang terkadang dibenci oleh kaum metropolitan Jakarta yang selalu saja membuat Jakarta berubah menjadi "empang" dadakan. Namun, buat sebagian orang termasuk saya, hujan bukanlah suatu hal yang mesti dicaci seperti ketika "BBM Naik" namun, terkadang perlu dinikmati seperti "masalah" minimal untuk sekedar memanfaatkan kekosongan aktivitas di sela-sela waktu luang.

---ooOoo--

Beberapa waktu yang lalu seorang "sahabat" saya yang juga "merangkap" menjadi teman kost saya baru saja muncul setelah menghilang dan terlelap dengan kesibukannya sebagai aktifis beberapa hari belakangan ini. Jam menunjukkan sekitar pukul 23.00, kepalanya tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarku, kemudian masuk sejenak dan membuat percakapan ringan. Beberapa menit kemudian, saya ingat kalau dia baru saja mem-posting koleksi buku terbarunya yang membuat saya penasaran dan memutuskan untuk mengajaknya naik ke kamarnya di lantai 2.

Seperti biasa, penampilan kamar yang sesuai jati diri dia sebagai seorang lelaki. Kemudian saya tersenyum kecut ketika menemukan 2 buku baru tergeletak di lantai kamarnya. Satu novel bejudul "Rindu" karya Tere Liye yang ketika saya tanya, ternyata dia sudah melahapnya, yang satu lagi dengan perawakannya yang terlihat masih perawan (baca: terbungkus). Buku yang satu ini secara penampilan sampul yang berwarna "hitam" cukup familiar buat saya yah, sebuah novel karya Dee berjudul "Gelombang".

Saya pun mulai menghujam sahabat saya yang satu ini dengan beberapa pertanyaan mengenai kedua koleksi terbarunya ini. Pertanyaan yang muncul lebih banyak mengenai novel karya Tere Liye tadi yah, maklum saja saya ini masih buram tentang novel-novel dari Dee. Ternyata novel ini cukup menarik perhatian saya karena Tere Liye mengambil latar tempat dan tokoh dari daerah asal saya, Makassar. Semua berlalu begitu saja, kemudian sampailah saya kepada pertanyaan yang sedikit krusial yah, ini masalah "materi". Sahabat saya yang satu ini menjawabnya katanya dia perlu merogoh sampao sekita Rp. 150.000 untuk kedua benda mati ini. Saya pun memilih untuk "kaget".

Masalah makhluk bernama "uang" ini selalu saja membuat saya sedikit "pusing". Masalahnya bukan pada orang tua, tapi ketika hasrat saya akan buku bertemu dengan masalah uang di dompet selalu saja membuat saya harus elus dada. Bagaimana tidak..?, saya ini adalah orang yang rela "jomblo" untuk memikirkan makhluk bernama "buku" dan satu lagi "makanan". Kedua makhluk ini sungguh menguras pikiran saya tentang uang. Beli buku atau tidak makan selama 3 hari merupakan pilihan yang lebih sulit ketika harus memilih "kamu" atau "dia". Sehingga, saya memang harus mengakui kalau "kecintaanku" terhadap buku berbanding lurus dengan "kecintaanku" terhadap makanan.

Beberapa hari kemudian saya memutuskan untuk pergi ke "Wilis" bersama seorang teman saya. Wilis merupakan salah satu pasar yang cukup terkenal di Kota Malang khususnya di kalang pelajar. Pasar yang satu ini selalu saja menjadi jalan akhir ketika saya sudah cukup "bernafsu" untuk memiliki suatu buku namun tidak didukung oleh uang yang memadai. Yah, disinilah surganya buku murah dengan kuallitas kawe-kawe-an yang luar biasa yang terkadang disebut dengan istilah "bajakan".

 Pada awalnya saya cukup pesimis untuk mendapat novel Tere Liye berjudul "Rindu" tadi, mengingat buku ini baru saja diluncurkan sebulan yang lalu. Saya kemudian terkejut dan seakan mau berteriak "what the fu*king happen..?", ketika menemukan novel ini berserakan di sejumlah lapak di sana. Tampa berpikir halal-haram apalagi memikirkan untung-rugi, saya pun meluncurkan jurus "tawar-menawar" yang dulu pernah diajarkan oleh "Mama" saya ketika diajak ke pasar. Saya tau betul kalau harga novel kawe-kawe-an disini intu tidak lebih dari Rp 15.000 dan umumnya hanya mentok di harga Rp. 20.000. Namun, setelah meluncurkan kemampuan tawar-menawar saya secara maksimal, ternyata penjual yang satu ini cukup lihai juga dalam berdalih, katanya ini novel "baru" sehingga, harganya pun metok di harga Rp. 25.000.

Setelah lelah berkeliling dan mendapatkan beberapa buku yang saya incar, saya pun "moleh". Sesampai di kamar kost, perasaan ini lagi-lagi datang menyerang dan mengisi rongga paru-paru saya yang seharusnya berisi udara sehingga membuat saya sesak. Bingung. Yah, mungkin begitulah saya menyebutnya. Setiap pulang dari pasar buku itu, saya selalu saja mempertanyakan "Keberkahan" dari buku-buku ini. Kalau kalain sempat melihat koleksi buku saya apalagi yang bergenre novel, hampir sekitar 60% - 70% berasal dari pasar itu.

Disaat saya galau memikirkan nasib dan hukum buku-buku itu, saya selalu saja mencoba untuk menghibur diri sendiri. "Harga bukunya kan sesuai dengan kualitasnya yang sekali buka bisa saja terhambur, jadi yang membuatnya murah kan kualitasnya" bisikan satu berbicara. "Siapa suruh menjual buku seakan yang boleh menikmatinya hanya anak pejabat atau paling tidak PNS golongan atas..?" bisika lain mencoba membela. Sungguh sebuah hiburan yang terkadang saya pun sadar kalau itu hanya usaha saya untuk melakukan "pembenaran".

Terlepas dari semua itu, mungkin yang paling dirugikan adalah "Penulis" dari buku-buku tersebut. Melalui tulisan ini dan kalau beliau-beliau sempat membaca, saya berharap agar penulis-penulis hebat sekelas Tere Liye, Habiburrahman El-Shirazy, dan penulis buku-buku akademik untuk "Ikhlas", sekalipun mungkin berat dan bisa jadi beliau-beliau berkata "enak aja..," namun, saya hanya bisa berkata "biarlah Allah SWT -Sang Maha Bijak- yang menilai..".

Andi Akbar Tanjung
American Corner UMM, Malang
November 20th 2014

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar