Sekolahku Diajar oleh "Tuhan".

"Kunci Perubahan Dimulai dari Pendidikan, -katanya-"
Beberapa waktu, saya sempat mencoba iseng-iseng mencari beberapa refrensi pendidikan. Ditanya untuk apa..?, yang jelas waktu itu saya cuman pengen dan kebelet baca tentang Pendidikan. Saya kemudian kesasar untuk masuk mendalami sekolah-sekolah sukses dari Indonesia. Sukses dalam artian dalam membangun wadah pendidikan yang sangat "kereeeennn" dari berbagai sektor khususnya di Fasilitas, SDM, dan Alumni-nya.

Disaat kejenuhan saya mencari dan belum mendapatkan kepuasan. Saya kemudian menemukan 2 Wadah Pendidikan yang seakan memberikan cahaya terang di ujung pencarian saya. "Pondok Pesantren Darussalam Gontor" dan "Ipeka International Christian School" kemudian menjadi ujung dari pencarian yang hampir asa ini.

  • Pondok Pesantren Darussalam Gontor atau yang dikenal dengan sebutan "Gontor" merupakan salah satu pesantren dengan tingkat popularitas "number wahid" di kalangan umat Islam Indonesia dan bahkan dunia yang ingin menyekolahkan anaknya di institusi pendidikan Islam. Ditanya kenapa..?, saya pun hanya mendengar dari legenda yang beredar tentang bagaimna besarnya, sistemnya, dan tingginya tingkat disiplin di sana. Untuk saat ini saja sudah terdapat 13 cabang Gontor yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dengan menggunakan sistem yang kolektif atau sama. Masalah jeblosan dari pondok ini maka akan muncul orang-orang sekalas Din Syamsuddin (PP Muhammadiyah), Nurcholis Majid (Cak Nur), Azhar Arsyad (Mantan Rektor UIN Makassar), dan sederatan nama terkenal lainnya yang tentunya terlepas dari baik dan buruknya mereka. Karena mamiliki ciri dan sistem pendidikan yang "antik" maka kemudian muncullah orang sekelas A. Fuadi untuk kemudian menuliskannya ke dalam Trilogi Novel "Negeri 5 Menara", dan sungguh kisah manis-pahitnya menuntut ilmu di pesantren itu sangat terasa.
  • Ipeka International Christian School merupakan salah satu institusi pendidikan Kristen yang cukup terkenal dan memiliki "nama" di kalangan orang-orang Kristen itu sendiri. Soal fasilitas, kualitas, dan sistem yang diterapkan di dalamnya semuanya diselarakan untuk standar International dan ini yang kemudian menjadi pertimbangan komplit untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sana. Prestasi sekolah ini pun tidak tanggung-tanggung, soal perebutan medali di Olimpiade Sains sudah menjadi makanan mereka mulai dari perunggu sampai emas. Untuk masalah jeblosan dari sekolah ini, banyak yang kemudian melanjutkan pendidikan ke luar negeri termasuk ke MIT, Amerika.

Gontor dan Ipeka pada awalnya menarik perhatian saya hanya pada fasilitas dan kebesaran mereka. Namun, saya kemudian bertanya-tanya apa yang membuat 2 lembaga pendidikan "swasta" ini bisa menjadi besar dan mampu mengorbitkan orang-orang hebat. Saya kemudian mencoba mencari informasi di internet dan mulai "meng-onani" (memaksa .red) pikiran saya untuk berpikir (please.., jangan ngeres..) dan mencoba untuk menemukan titik kesamaan dari kedua lembaga pendidikan ini yang kemudian membuat saya mengatakan "woow aku tercengannnn..!".

Setelah lelah dan puas "ber-onani" dengan pikiran saya, lahirlah sebuah hipotesa ala bocah Pendidikan Bahasa Inggris. "SISTEM". Yah, kesamaan mereka terdapat pada sistem tata kelola pendidikan mereka, mulai dari kurikulum sampai pada kedisiplinan siswa dan guru. Kedua lembaga pendidikan ini kemudian menjadikan "Nilai-nilai Ke-Tuhan-an" menjadi indikator inti dalam pendidikan mereka. Sehingga mereka tidak mengikuti sistem dan kurikulum yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Pesantren sebesar Gontor, selama kurang lebih 75 tahun pendapatkan status "Tidak Diakui" oleh pemerintah Indonesia karena memiliki sistem yang kemudian dibentuk, diatur, diajalankan, dan dievaluasi sendiri oleh pihak Gontor (Sumber). Perubahan kurikulum dan sistem pendidikan di Indonesia yang hapir setiap periode berganti, kemudian tidak berdampak ke kurikulum di Gontor, bahkan Ujian Nasional (UN) yang merupakan produk pemerintah tidak mempu menjabah Gontor. Setelah bertahan sekian lama dan menghasilkan produk handal barulah di tahun 2000 Gontor mendapatkan status "Diakui" oleh Pemerintah Indonesia bahkan Timur Tengah, namun mereka tetap mempertahankan sistem yang ada.

Sekolah Kristen Ipeka sendiri tidak jauh beda dari Gontor. Mereka penerapkan sistem pendidikan yang berbeda dari pemerintah Indonesia. Masalah kurikulum, mereka kemudian lebih memilih untuk merapkan sistem kurikulum yang berasal dari Australia yaitu, Board of Studies New South Wales Australia. Kemudian masalah penanaman pendidikan Kristen mereka menjalin kerja sama dengan The Association of Christian School International (ACSI) yang dimana kurikulum ke-agama-an mereka merupakan standar International yang diterapkan sama di seluruh sekolah Kriten dunia.

Sistem yang kemudian coba dibangun oleh Gontor dan Ipeka yang tidak mengikuti sistem pemerintah pada dasarnya mempunyai landasan sendiri. Gontor dan Ipeka mencoba untuk membangun landasan pendidikan mereka berbasis "Ke-Tuhan-an" sedangkan sistem Indonesia tidaklah menjadikan hal tersebut sebagai landasan "utama". Sehingga, Gontor dan Ipeka kemudian mencoba mengajarkan santri dan siswa mereka dengan ilmu yang telah dikaitkan dan disortir dari Al-Quran dan Kitab Injil dan mengharuskan ustadz dan guru-guru di sana untuk menjadikan Al-Quran dan Kitab Injil sebagai sumber utama.

Pada akhirnya saya menemukan bukti akan indahnya dan hebatnya suatu pendidikan yang kemudian diajarkan langsung oleh "Tuhan".


Malang, 12 Novermber 2014

Andi Akbar Tanjung

2 komentar:

  1. Keren, mampir kesini juga ya: https://imajinesstories.wordpress.com/ :)

    BalasHapus