Islamic Book Fair (IBF) Pertamaku.


Salah satu stand di Islamic Book Faik (IBF) Malang.
Hari Ahad kemarin, tepatnya tanggal 7 Desember 2014, saya telah melepas "keperjakaan" saya untuk menginjakkan kaki ke salah satu pameran yang selalu saya lewatkan yaitu Islamic Book Fair (IBF) Malang. Saya sudah sempat menyinggung sedikit pengalaman pertama saya ke IBF ini di postingan saya sebelumnya (Hari Ahad Bersama Mereka) namun, pada kesempatan ini saya akan mencoba membahas ini jauh lebih dalam.

Sepanjang yang saya ketahui, Kota Malang merupakan salah satu kota yang cukup intens melaksanakan yang namanya Islamic Book Fair setelah Jogja dan Jakarta sehingga, wajar kalau IBF yang kemarin saya datangi sudah IBF yang Ke-21. Dan sejak saya menginjakkan kaki di Kota Malang ini sudah sekitar 4-5 IBF yang saya lewatkan.

Pamer bukunya Felix Siauw. Saya dan Mbak Nunik
Alasan saya selalu melewatkan IBF, sebenarnya karena saya cukup trauma dengan pameran-pameran buku yang pernah saya datangi. Yah, diskon tetap ada cuman, begitulah diskon ala Indonesia yang terkadang menaikkan harga terlebih dahulu. Kalau bukan alasan diskon yang selalu menipu, saya juga cukup ngeh dengan jenis pameran buku yang supeeerrr murah namun, bukunya selalu saja masuk dalam list tidak penting dan tidak menarik buat saya. Dan karena dua alasan tersebutlah yang membuat saya melewatkan IBF dengan pemikiran bahwa pameran bukunya pasti sama aja.

Menjelang pelaksanaan IBF tanggal 5 Desember kemarin, saya sudah mendapatkan beberapa kali hasutan untuk ke sana. Akhirnya dengan beberapa hasutan dan saran membuat keyakinan saya terhadap pameran buku yang selalu saja tidak menarik runtuh tak tertahankan. Saya pun memutuskan untuk berangkat dengan teman-teman dari IMM Komisariat Raushan Fikr FKIP-UMM. Setelah mencari celah waktu untuk bisa berangkat akhirnya Ahad, 7 Desember kemarin tepatnya sekitar pukul 1 siang setelah dari acara di UMM Dome saya dan 9 orang teman berangkat ke sana.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di pameran IBF, hati saya kemudian membatin "masuknya gratis coyyy..". Yah, karena sepengalaman saya setiap kali memasuki pameran pasti selalu ada "preman" (petugas loket .red) yang meminta uang masuk. Menurut saya sih wajar karena dari uang tiket masuk itulah kemudian menjadi sumber pemasukan buat pelaksana pameran. Seakan ingin tampil beda, IBF kemudian tidak memungut biaya masuk kecuali untuk parkir kendaraan. Saya pun bertanya-tanya tentang sumber keuntungan buat pelaksannya itu apa..?, entahlah, namun, yang pasti pameran ini cukup menarik di pandangan pertama saya.

Sekalipun nama pameran ini adalah Islamic Book Fair namun, yang dijajahkan di sini tidak semuanya buku. Di awal kita memasuki area pameran ini, kita disuguhi dengan stand-stand yang menawarkan pakaian dan berbagai jenis aksesoris. Sekalipun yang dijual tidak hanya book namun yang pasti kata Islamic-nya benar-benar kental terasa. Memasuki gerbang, sepanjang jalan pakaian dan aksesoris yang ditawarkan semuanya untuk "Ibadah" ummat Islam. Selain penjual dan barang dagangnya yang berbau Islami ternyata pembeli yang memasuki area tersebut sekitar 90% berpenampilan Islam juga. Jadi, kita tidak akan melihat penampakan "paha manusia" seperti ketika berkunjung ke Gramedia. :D

Saat petama kali memasuki area khusus pameran buku yang terletak di dalam Aula Skodam Brawijaya, Malang, saya cukup merasa nyaman dengan suasana yang ada. Mulai dari pentaan pamerannya sampai dengan fasilitas yang disediakan panitia seperti Mushallah dan Food Court. Ketika saya dan teman-teman berkeliling area pameran buku di sana saya menemukan pameran dari penerbit buku yang cukup familiar seperti Diva Press dan Mizan. Namun, yang mendominasi pameran buku di IBF ini bukanlah penerbit buku tetapi toko-toko buku sekelas Togamas.

Berbicara masalah harga buku di pameran IBF ini memang tidaklah semurah pameran buku yang biasa mangkal di Kampus saya. Yang menjadi menarik buat saya masalah harga adalah semua buku yang ada di sini DISKON rekk. Yah, walaupun diskonnya hanya sekitar 10-35% namun, itu cukup menghibur dompet saya :D. Satu lagi yang cukup saya hargai soal diskon di pameran IBF ini yaitu, maslah harganya yang tidak "dimanipulasi" seperti diskon-diskon pada umumnya. Saya tau hal ini karena sepulang dari kunjungan pertama saya di IBF saya langsung searching harga-harga buku sebelum dapat diskon dan ternyata harganya sama dengan yang ada di IBF.

Hal menarik lainnya yang membuat saya cukup respect dengan pameran IBF daripada pameran-pemeran buku yang pernah saya datangi adalah masalah buku yang ditawarkan. Setiap saya mampir pada satu stand, pasti saya menemukan buku menarik yang membuat saya harus berdebat panjang dengan dompet dan perut ku. Bayangkan saja kalau buku-buku yang ditawarkan itu adalah buku yang ditulis oleh penulis-penulis hebat sekelas Tere Liye, Habiburrahman El-Shirazy, Felix Sauw, Karen Armstrong, Dee Lestari, dan bahkan buku-buku karya ulama terdahulu juga ada dan satu hal lagi yang membuat saya harus lama berpikir adala harganya yang semuanya "diskon".

Dari semua hal menarik yang saya dapatkan di kunjungan pertamaku ke IBF membuatku datang dan mengunjungi IBF dalam satu waktu pameran sebanyak 3X. Dan berikut ini adalah buku-buku yang berhasil saya bawa pulang. :D

Hitam - Putih :D

Api Tauhid itu sungguh Berisi dan Menarik.
Andi Akbar Tanjung
Malang, 16 Desember 2014
at American Corner - UMM

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar