Raker; Improvisasi Pikiran dan Hati.


"Terkadang kita tidak perlu tau apa yang kita perjuangkan untuk memulai perjuangan tersebut"

Hari Ahad kemarin tepatnya tanggal 30 November 2014 telah dilaksanakan salah satu agenda "akbar" dalam priode kami, IMM Komisariat "Raushan Fikr" FKIP-UMM Periode 2014-2015 yaitu, Sosker (Sosialisasi Program Kerja). Baru dengar yah..?. Yah, pada dasarnya kata Sosker baru diangkat di periode kami, mengingat periode-periode sebelumnya bernama Musyker (Musyawarah Kerja). Kalau ditanya kenapa, tentu hal itu memiliki landasan tersendiri yang dimana tidak menjadi fokus saya kali ini.

Pada kesempatan ini, seperti clue yang saya berikan di atas, saya tidak akan fokus pada Sosker, karena itu merupakan hasil. Di sini saya akan mencoba bercerita sambil menyelami hikmah dari PROSES menuju Sosker tersebut. Katika saya menarik sedikit memori ingakanku kebelakang maka, akan tersebutlah sebuah "proses" yang puuaaannnjannnngg dan melelahkannya minta ampun -pake banget- bernama Pra-Raker dan Raker.

Pra-Raker dan Raker ini adalah proses yang menurut saya harus ada dalam setiap organisasi berbasis pergerakan atau perkaderan, apalagi sekelas IMM. Ditanya kenapa, tentu tiada lain karena dari rapat inilah akan melahirkan program-program yang kemudian akan menjadi ruh penggerak dari organisasi tersebut. Proses raker yang saya jalani kali ini memberikan saya kenangan, perasaan, ingatan, ilmu, dan segudang hal-hal lainnya. Kalau mau "Jujur", Lelah itu pasti, Bosen apalagi, Kesal jangan ditanya lagi, dan Pulang "tengah malam" adalah keniscayaan. Dan satu hal lagi yang rasanya perlu dicatat, hal tersebut kami jalani selama kurang lebih 3 (tiga) Minggu atau yang Orang Inggris bilang "Three Weeks" dan didampingi suasana UTS dan MAGANG. Subhanallah...,

Apa yang kami lakukan ketika dilihat dari sudut pandang eksternal maka, pasti akan ada yang mengatakan bahwa Raker yang kami laksanakan masuk dalam kategori "nggak becus" karena Lamanya. Namun, saya pribadi yang melihat hal tersebut dari sudut pandang internal, sungguh terkagum-kagum dengan sebuah kata "PERJUANGAN" dari teman-teman Pimpinan Harian, walaupun terkadang kita sendiri belum terlalu paham tentang "apa yang diperjuangkan...??". :D

Setelah saya merasakan dan terlibat langsung dalam Perjuangan tersebut, saya kemudian mencari tentang apa yang saya perjuangakan. Alih-alih saya mendapatkan jawaban, malah saya keburu "waktu" untuk harus memulai perjuangan tersebut. Maka pada titik inilah saya menyimpulan kalau "Terkadang kita tidak perlu tau apa yang kita perjuangkan untuk memulai perjuangan tersebut". Cukuplah kita menyadari apakah yang kita perjuangkan benar atau salah dan kalau kita sadar itu benar maka, Berjuanglah...!!.

Improvisasi Pikiran dan Hati

Selama proses yang panjang tadi, saya kemudian menemukan sesuatu dalam diri saya yang kemudian saya sebut dengan nama Improvisasi. Ditanya dimana..?, disini dan disini -sambil menunjuk kepala dan dada-.

Improvisasi Pikiran kemudian menjadi hal pertama yang saya rasakan. Rapat yang kami laksanakan ini tentunya bukanlah rapat penentuan tanggal sebuah kagiatan, bukan pula rapat untuk memilih ketua pelaksana, apalagi hanya sekedar rapat untuk membahas acara ruja'an. Inilah the real rapat yang betul-betul membuat kepala saya ini berkerja lebih lama dari sebelumnya, menatap lebih jauh dari pandangannya, dan mengingat lebih dalam dari dasarnya.

Dimulai dari menafsirkan Arah Gerak Komisariat untuk menghasilkan Indikator dalam Sistem Perkaderan, Pengorganisasian, dan Pergerakan, kemudian melakukan singkronisasi dengan Pola Kebijakan, dan berakhir pada proses pengejahwantahannya ke dalam program kegiatan. Cukup singkat memang, namun permasalahannya adalah hal tersebut disusun oleh lebih dari 20 kepala yang berbeda, sehingga setiap kepala harus berpikir keras untuk meyakinkan kepala-kepala yang lain bahwa orderannyalah yang terbaik. Dan proses inilah yang membuat saya puyeng dan terkadang jengkel. :D

Selanjutnya hal kedua yang saya temukan adalah Improvisasi Hati. Sidikit lebay memang kedengarannya, apalagi buat orang-orang yang sedikit sensi dengan kata-kata seperti Cinta dan Galau. Namun, saya harus mengakui kalau proses Raker diatas sangat memberikan sensasi rasa tersendiri di dalam dada saya yang berisi Hati dan Jantung. Seandainya saja dada ini berisi "Lambung" maka mungkin saya sudah mengidap penyakit maag kronis.

Namanya organisasi, pasti ada rapat, ada rapat pasti ketemu dengan dinamika. Yah, hal inilah yang kemudian membuat dada saya sesak. Dinamika. Teman saya sempat bercerita kalau dia merasa lelah dan muak dengan dinamika dalam organisasinya dan terkadang berpikir untuk mundur. Saya pun demikian, terkadang saya merasakan kata -sakitnya tuh di sini- dalam versi yang berbeda dari kaum "Galauersss". Namun, satu hal yang pasti rasa ini terkadang membawa kita pada titik asa terakhir kita hingga berujung pada putus asa. Sehingga, inilah mungkin yang menjadi alasan para kaum Galauerss untuk bunuh diri dan beberapa kaum aktifis untuk memilih mundur dari organisasi.

Saat-saat seperti diatas, tentunya tidak semua kaum Galauersss yang bunuh diri dan tidak semua aktifis memilih mundur. Saya dan teman-teman PH yang lainnya memilih untuk berada pada posisi ini. Sakit hati, jengkel, saling menyinggung dalam forum, saling menjatuhkan, dan bahkan saling memojokkan adalah bagian dari dinamika forum. Namun, sebagai kaum Pemikir yang Tercerahkan, kami selalu berusaha berpikir cerah nan jernih.

Profesionalitas. Yah, hal itulah yang kemudian dituntut disaat-saat seperti di atas. Dinamika dalam forum itu perlu namun, sekali lagi Profesionalitas harus dijunjung tinggi. Ketika moderator mengucapkan salam penutup dalam forum, kami dituntut untuk melupakan rasa sakit dalam forum tadi. Sulit memang, bahkan rasanya itu 11-12 dengan sulitnya melupakan mantan. Namun, sekali lagi kita tidak berbicara tentang Cinta, jadi ketika saat itu juga sulit untuk memaafkan maka, esok hari kami harus sudah bisa saling senyum, tidak bisa esok hari maka, hukum membenci tidak lebih 3 hari kemudian berlaku. Sungguh sulit dan sakit memang namun, semua itu Indah.


Malang, 03 Desember 2014
Pukul 22:22 WIB
Andi Akbar Tanjung

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar