Gunung Bromo Part I: Sebuah Perjalanan


20-21 Januari 2015 merupakan salah satuh hari bersejarah dalam perjalanan hidup saya selama kurang lebih 19 tahun di dunia. Setelah sekitar 1,5 tahun menginjakkan kaki di Kota Malang untuk berkuliah, akhirnya saya bisa melepas "keperjakaan" saya untuk menginjakkan kaki di salah satu gunung yang cukup terkenal di Indonesia, yaitu Gunung Bromo.

Perjalanan kali ini saya renacanakan bersama dengan teman-teman seperjuangan saya di IMM Komisariat "Raushan Fikr" FKIP-UMM khususnya angkatan 2013. Desas-desus awal kami hanya berencana untuk menghabiskan awal liburan semester 3 untuk pergi ke tempat yang intinya berkesan buat kami. Setelah melaui proses rundingan di group chat Facebook akhirnya Gunung Bromo menjadi pilihan.

Setelah memilih Gunung Bromo sebagai pilihan destinasi, kami pun melanjutkan dengan 3 kali rapat persiapan dan pendataan. Persiapan dan pendataan pun berjalan cukup elok dengan keputusan untuk menyewa 5 buah motor sebagai tambahan dengan jumlah peserta 20 orang. Konsumsi pun tidak terlupakan, dengan mengandalkan tangan-tangan "ajaib" kaum immawati akhirnya makanan pun di serahkan ke mereka untuk diramu sendiri dalam rangka penghematan dana.

Dari sekian persiapan yang kami lakukan, tersisah satu kendala yang cukup krusial yaitu tidak adanya diantara kami yang tau jalur menuju Gunung Bromo. Keputusan awal kami hanya berharap kepada Google Map sebagai guide kami tapi, akhirnya kami mendapatkan seorang senior yang bersedia untuk menjadi pemandu jalan yaitu Mas Rum

Semua persiapan sudah mantap. Dari peserta sendiri, ada yang mengurung niat namun, tidak sedikit peserta baru yang ikut join sehingga pada detik-detik terakhir pemberangkatan terkumpul 25 orang yang fix dengan total kendaraan 13 motor.


Sebuah Perjalanan

Perjanalan dimulai pada pukul 00.00 WIB dari Komisariat IMM "Raushan Fikr" sebagai starting point. Kemudian dilanjutkan dengan mengisi BBM di SPBU UMM dan langsung mengahantam dinginnya Kota Malang di malam hari.

Sekitar 1 jam perjalanan yang kami lalui, semuanya masih terasa ringan dengan keadaan pinggir jalan yang cukup ramai oleh pemukiman warga. Memasuki 1,5 jam awal barulah keadaan terasa berubah menjadi lebih sedikit menantang dengan jalur yang menanjak namun, tetap terasa aman dengan adanya rumah warga. Sedikit demi sedikit perjalanan kami taklukan dengan bersama-sama hingga kami memasuki area pegunungan dengan jalur menanjak seakan-akan tiada henti dan berdampingan dengan belokan yang sedikit membuat kami harus mengurangi kecepatan karena resiko terjun ke jurang sangatlah besar.

1 jam selanjutnya kami lalui dengan adrenalin yang cukup tertantang melihat jalur yang tersuguhkan di depan kami cukup ekstrim. Tanjakan sekitar 40-50 derajat dan belokan tanjam berbentuk U sempurnah terpampang di depan kami. 5 motor matic bermerek "Nex" yang kami sewa terasa berat untuk melewati semua tanjakan-tanjakan tersebut sampai saya kemudian sadar telah menarik gas sampai pada "tetes" terakhir dan kecepatannya hanya mentok di 40 km/jam.

Setelah hampir 3 jam berkendarah sampailah kami di titik pemberhentian awal (sebenarnya sudah beberapakali berhenti untuk menunggu teman yang tertinggal). Di pemberhentian awal ini lah yang kemudian menjadi momen indah beberapa peserta untuk melunasi "kerinduan" mereka terhadap toilet. Saya sendiri kemudian tersadarkan oleh keadaan BBM motor saya yang sedikit lagi menyentuh batang merah-nya. Ternyata motor rental bermerek "Nex" ini cukup boros untuk perjalanan seperti ini (bukan niat untuk menjatuhkan cuman inilah fakta yang saya dan teman-teman rasakan). Motor saya pun dan beberapa motor rentalan lainnya terpakasa mengisi BBM dengan harga yang juga cukup menguras dana yaitu 9000/liter.

Cek kenadaraan sudah, "bercumbu" dengan toilet sudah, merenggangkan badan sudah, waktunya melanjutkan perjalanan. Kata Mas Rum, perjalanan masih tersisah sekitar 30-45 menit lagi. Ketika melanjutkan perjalanan, awalnya masih berupa turunan namun masih terlihat cukup ekstrim-nya. setelah sekitar 20 menitan berkendara, medannya kemudian berubah menjadi tanjakan yang bertabur kelokan ekstrim dan jurang menganga di sampaing kiri kami. Sungguh medan yang sangat menantang.

Medan yang naik-turun, berkelok-kelok, dan bertabur jurang berhasil kami taklukkan. Keadaan tubuh yang tidak tidur semalaman dan berkendara semalaman sudah mulai terasa berat. Setelah berkendara cukup lama sampailah kami di sebuah pertigaan. Ambil jalur kanan berarti kita akan turun ke padang pasir Bromo dan kalau ambil jalur kiri kita akan naik ke Tanjakan Bromo. Tanjakan Bromo kemudian menjadi pilihan kami. Sesuai namanya Tanjakan Bromo ini benar-benar the real climb.

Tanjakan Bromo telah kami taklukkan dan akhirnya kami sampai di point view yang sangat keren untuk memandang hamparan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Semeru, Gunung Bromo, padang pasir, dan gunung-gunung kecil lainnya terhampar di depan kami dengan "sombongnya" memamerkan keindahan mereka. Belum cukup kami dibuat kagum dengan keindahan gunung-gunung tersebut, datanglah sunrise yang kemudian memberikan warna lebih pada pemandangan di depan kami. Subhanallahhhh.

Mencoba untuk "mengalahkan" indahnya Alam. :D
Arek Makassar. :D
Ganteng mana, saya atau background-nya....??. :D
Pengen punya rumah di pemukiman itu.
Setelah menikmati keindahan alam yang dibungkus oleh manisnya sunrise, kami memutuskan untuk turun ke padang pasir untuk kemudian melanjutkan ke pendakian Gunung Bromo. Kalau perjalanan ke Tanjakan Bromo tadi saya capek nge-gas motor, untuk turun ke padang pasir itu tanga saya capek untuk menekan rem motor. Sungguh turunan yang sangat mengerikan dengan kemiringan yang hampir menyentuh angka 70 derajat.

Menaklukkan turunan yang 11-12 dengan tanjakannya telah sukses. Dan sampailah kami di padang pasir yang mengelilingi Gunung Bromo ini. Tak tanggung-tanggung luas padang pasir ini mencapai 5.250 hektar (sepertinya keren kalau digunakan untuk membangun Kampus 4 UMM :D). Sesampainya di padang pasir kami beristirahat sejenak untuk sarapan pagi yang telah dipersiapkan oleh kaum "immawati" tangguh kita dan sejenak berfoto-foto ria.
Makan dulu kiteee. :D
Menahan dingin dengan berfoto-foto ria.
Perut sudah kenyang. Berfoto-foto juga sudah. Sekarang waktunya menaklukkan puncak gunung Bromo.

Untuk menuju ke tempat pendakian kami terlebih dahulu harus menaklukkan padang pasir Bromo yang terkenal banyak memakan korban khususnya para pengendara motor. Tau sendirilah bagaimana kalau motor bertemu dengan pasir, pasti bawaannya tergelincir terus. Setelah melewati padang pasir dan sedikit tergelincir dan hampir jatuh, akhirnya kami sampai di tempat parkiran motor terakhir. Waktunya summit attack.
Ritual sebelum menaklukkan puncak.
Kami dipertemukan dalam satu "Ikatan".
Setelah mendaki setengah perjalanan.
Arek Mangkasara' yang selalu ingat saudaranya yang di rumah. :D
Mendekati Allah SWT. dengan cara ku sendiri. :D
Hari ini telah ku tuntaskan salah satu kepingan perjalanan hidup saya untuk melihat setiap inci dari "wajah" Allah SWT. Saya sadar masih banyak kepingan yang harus saya lihat agar bisa menyaksikan dan merasakan secara penuh kehadiran-Nya.

Andi Akbar Tanjung
@Hotspot Area UMM.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar