Gunung Bromo Part II: Keping-keping Makna.

Bersama mereka.
...karena sebuah perjalanan adalah sebuah pencarian akan makna kehidupan yang tersebunyi....
Di postingan saya sebelumnya yang berjudul "Gunung Bromo Part I: Sebuah Perjalan", saya sudah membahas -panjang kali lebar kali tinggi- tentang perjalanan saya dan teman-teman saya ke Gunung Bromo. Di bagian kedua ini saya akan mencoba untuk mengumpulkan beberapa "keping" makna yang saya dapatkan dari perjalanan yang bisa dibilang cukup melelahkan namun melenakan ini.

Sebuah Kebersamaan
Makan adalah momen yang paling pas untuk berkumpul.
Perjalanan ke Gunung Bromo dengan pengalaman sebelumnya "nol" dalam hal mendaki gunung, jujur buat saya "cukup berat". Melawan dinginnya udara yang menusuk dari segala penjuru, jalur yang menantang seakan siap mengantarkan saya ke akhirat, dan ditambah lagi dengan rasa lelah yang seakan menjadi mantel buat diri saya, sungguh susatu yang baru buat saya.

Dari semua kesusahan di atas saya kemudian menemukan sesuatu yang berbeda tatkala saya melihat sekeliling saya dan menemukan fakta bahwa saya tidak sendiri. Ada 12 motor lain yang berada di sekitar saya. Yah, kami berangkat dengan jumlah orang yang bisa dikatakan cukup buaaanyaak, 25 orang tepatnya.

Ini nih "leader" kita, Mas Rum.
Saya kemudian cukup kagum dengan seorang senior saya yang bertindak sebagai "leader" kami dalam perjalanan kali ini. Mas Rum namanya. Walaupun beliau berasal dari Indonesia bagian timur namun, soal rute di sekitar Malang sudah dia hapal seperti kampungnya sendiri. Selama perjalanan, karena dia satu-satunya orang yang tau rute perjalanan, tentunya dia harus selalu berada di depan. Namun, tak jarang beliau juga harus mundur ke belakang untuk menghitung jumlah peserta dan memberi komando berhenti ketika harus menunggu teman yang tertinggal.

Perjalanan yang hampir 40 km seakan tidak menjadi halangan ketika kebersamaan menyertai kami. Satu tertinggal, semua harus berhenti. Satu kehabisan bensin, semua harus berhenti. Walaupun kami sadar dengan seringnnya kami berhenti maka akan semakin banyak waktu yang akan kami habiskan dalam perjalanan. Seakan-akan derita satu orang harus ditanggung semua orang. Yah, itulah mungkin pelajaran yang kecil namun, cukup bermakna buat saya.

Sebuah Penakluan
Arek Mangkasara' menginjak Puncak Bromo.
Sebuah perjalan adalah sebuah penakluan.
Kalimat di atas tentunya tidak asing lagi buat orang-orang yang sering menghabiskan hidupnya di dunia pendakian ataupun traveler. Setidaknya itulah yang sering saya dengar dari beberapa orang ataupun saya baca dari berbagai beberapa traveler blog. Sejujurnya, saya sepakat dengan kalimat tersebut, apalagi mengingat perjalanan saya untuk menaklukan Gunung Bromo benar-benar merupakan perjuangan yang tentunya paling pas ditutup dengan sebuah kata "Penakluan".

Penakluan yang telah saya lakukan selama perjalanan ke Gunung Bromo, bukan hanya tentang penakluan Gunung Bromo itu sendiri tapi, lebih dari itu adalah penakluan diri sendiri. Mungkin, sudah cukup basi buat beberapa orang yang mendengar kalau mendaki itu bukan soal penakluan gunungnya tapi, itu soal penakluan diri sendiri. Sekali lagi saya harus jujur kalau saya sepakat untuk yang satu ini.

Proses perjalanan dan pendakian yang baru buat saya dan cukup menyusahkan tentunya menjadi suatu kebanggaan tersendiri ketika saya berhasil melewatinya. Ketika saya harus bertindak sebagai orang yang mengendarai motor dengan suhu udara yang menusuk-nusuk seakan tidak berperasaan dan kondisi tubuh yang tidak tidur semalam ditambah habis begadang di malam sebelumnya tentu menjadi "sesuatu" tersendiri buat saya. Namun, dari dalam diri saya sendiri seakan ada yang menguatkan kalau saya harus bisa melalui ini setidaknya ini akan menjadi latihan buat diri saya sendiri untuk pendakian-pendakian selanjutnya yang tentunya dengan medan yang lebih ekstrim.

Ternyata dalam perjalanan pulang dengan rute yang lebih mudah namun panjangnya tidak karuan, saya harus mengalah dengan kondisi tubuh yang sudah mulai oleng. Saya pun harus mundur ke kursi belakang dan bertindak sebagai penumpang.

Selain penakluan diri akan medan yang cukup menantang buat seorang pemula seperti saya, ada lagi penakluan diri lainnya yang menurut saya layak untuk diceritakan. Perjanalan yang kita mulai di malam hari tentunya dengan alasan agar bisa melihat sunrise di subuh hari dan sebagai seorang Muslim tentunya ada satu waktu shalat yang harus dilaksanakan dimana shalat satu ini tidak bisa dijamak seperti shalat-shalat yang lainnya. Yah, shalat subuh.

Melaksanakan shalat subuh, mungkin sudah biasa. Namun, yang satu ini berbeda bro. Saya dan teman-teman harus melasanakannya di puncak tanjakan Bromo (bukan puncak Gunung Bromo loh yahh..) yang entah berada diketinggian berapa mdpl ini. Tentunya sudah jelas apa tantangannya. Dingin. Sebenarnya kalau kami melaksanakan shalat di padang pasir Bromo, mungkin kami masih bisa berdalih untuk tayammum karena tidak ada air namun, karena kami melaksanakannya di Tanjakan Bromo yang dilengkapi dengan mushallah plus tempat wuduh mau nggak mau kami harus wuduh dengan air yang dinginnya itu summmmpaaahhhhh bisa buat saya jadi manusia "alay" dalam seketika.

Proses pengambilan air wuduh ini seakan menjadi tantangan tersendiri buat saya. Dan sekali lagi saya merasa harus bisa menaklukan diri sendiri. Belum membuka sarung tangan aja sudah terasa membeku nih tangan apalagi saat saya harus melucuti satu per satu tameng pendingin saya. Sarung tangan, jaket (karena lengan jaketnya nggak bisa digulung), topi, dan terakhir sepatu. Saat saya menginjakkan kaki di tanah, sumpaaahhh udah seperti berdiri di atas es. Dan lebih parah ketika saya harus menyentuh air wuduh dengan dinginnya yang ampuunnn. Pada akhirnya saya bisa melewati dinginnya air wuduh yang menjadi air ter-dingin yang pernah saya sentuh.


Andi Akbar Tanjung
@Kamar Kost Ter-berantakan. 

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar