Review Semester III

Bismillahirrahmanirrahim..,

Memilih untuk menjadi "mahasiswa" setelah tamat MA adalah merupakan pilihan yang tentu saja mengandung konsekuensi. Berkutat dengan SKS, KSM, KRS, dosen, dosen wali, kampus, tugas, presentasi, bahkan dunia malam pun harus menjadi kebiasaan. Pergi pagi, pulang sore dan tak jarang pulang malam kemudian menjadi keseharian saya yang rasa-rasanya sudah seperti pekerja kantoran kelas berat. Sungguh berat memang tapi, kata sebagian orang "Jangan berharap hasil yang besar dari usah yang biasa-biasa saja".

Satu tahun setengah sudah saya berkelanan di Bumi Arema ini atau dengan kata lain 3 semester telah saya lalui dengan status sebagai "mahasiswa". Tentunya dengan status saya yang baru, ada banyak hal baru pula yang kemudian mendampingi kehidupan saya. Kehidupan yang kemudian saya lalui dengan berbagai hal yang terkadang membahagiakan dan tak jarang pula membuat saya harus pusing dan merasakan penderitaan di tanah rantau.

Awal yang Berantakan
Kelas "Pelangi".
Setelah liburan semester genap selama sekitar hampir 2 bulan lebih, saya pun akhirnya masuk di "semester 3" sebagai mahasiswa kembali. Naik ke tahap selanjutnya tentu akan berhadapan dengan mata kuliah yang baru dan dosen yang baru pula. "Idealnya" hanya dua hal itu yang akan menjadi barang baru buat kami sebagai mahasiswa karena mengingat pada umumnya kita akan tetap bersama dengan teman-teman kelas dari semester sebelumnya. Mungkin masalah "kekeluargaan" yang telah terjalin bersama mereka sehingga berkuliah satu semester ke depan bersama mereka merupakan pilihan yag kedengarannya cukup "tepat". Namun, semester kali ini terjadi perbedaan yang cukup signifikan khususnya masalah kelas dan teman yang juga "terpaksa" harus baru.

Kampus saya baru saja menerapkan sistem KRS yang digadang-gadang akan menjadi The Real KRS Online karena di tahun-tahun sebelumnya sistem KRS ini hanya bisa dilakukan di laboratorium komputer yang ada di dalam kampus. Namanya juga sesuatu yang baru tentu masih ada celah kekurangan di dalamnya dan karena kekurangan inilah yang membuat kami mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris harus melakukan KRS online ulang. Mengulang mungkin tidak ada masalah tapi masalahnya KRS ini hanya bisa dilakukan di komputer yang ada di Kantor Jurusan (Kajur). Bayang saja, ada 3 angkatan yang masing-masing angkatan didiami sekitar 300 mahasiswa dan harus mengantri di depan Kajur -yang luasnya tidak lebih dari ukuran kamar kost saya- hanya untuk KRS online. "nggak usah tidak bayangakan..!!, karena memang ini merupakan hal yang tidak wajar untuk terjadi di dunia nyata"

Kekacauan yang ditimbul oleh sistem yang baru ini tidak berhenti di soal antri-mengantri saja. Di dalam ruang Kantor Jurusan yang luasnya hanya sekitar 5x3 meter tersebut, kami harus merombak kelas kami karena ternyata buat beberapa mahasiswa, namanya berada di bawah garis "kemiskinan" yang artinya dia memasuki kelas yang sudah melebih kapasistas. Belum selesai sampai di situ, kami kembali harus dipusingkan dengan keadaan dimana hal yang namanya pemindahan kelas itu tidak gampang karena harus memerhatikan waktu kuliahnya agar tidak bertabrakan dan juga tentunya melirik nama dosennya agar tidak terjadi "patah hati" di kemudian hari.

Setelah berkutat dengan sistem yang harusnya membuat hidup kami jauh lebih mudah, akhirnya keluar jadwal kuliah yang fix untuk "sementara" waktu -karena kedepannya masih saja harus dirombak-. Dan lihat lah hasil dari sistem yang amburadul itu. Kelas saya kemudian menjadi warna-warni -A,C,H- yang seharusnya hanya ada kelas A dan B. Hal inilah yang kemudian mengilhami saya untuk memberikan nama kelas saya "Kelas Pelangi".

Semester Ter-Santai
Walaupun awal semster ini harus saya lalui dengan berbagai sistem administrasi yang ruwet dan bikin saya mumetnya bukan main namun, harus saya akui, selama saya berstatus "duda" maksud saya mahasiswa, semester ini adalah semester yang paling santai dari yang namanya rutinitas perkuliahan pada umumnya.

Dibandingkan dengan 2 semester saya sebelumnya apalagi waktu semester dua yang hampir tiap minggu saya harus maju presentasi dan buat makalah yang tidak ada habisnya, semester 3 ini, saya merasa seakan menemukan dunia bermain di tengah hutan Amazon. Bayangkan aja kalau dalam semester kali ini, saya tidak ada sama sekali tugas untuk buat makalah. Yah, walaupun menulis saat ini merupakan salah satu pekerjaan selingan saya ketika boker namun, entah kenapa untuk membuat makalah itu serasa ngehhh buat saya. Selain absennya pembuatan makalah untuk saya semester ini, tugas untuk presentasi pun saya hanya ketemu 1x dalam semster ini. It was amazing, wasn't it...??.

Berorganisasi
Setelah diedit sama KETUM.
Ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah, tentunya saya sudah bertekad untuk bisa menjadi mahasiswa yang kerjanya tidak belajar tok. Saya tidak ingin menjadi mahasiswa yang kerja cuman memikirkan masa depan sendiri dengan belajar bating tulang tanpa peka dengan sekitar. Dan saya ingin mencoba untuk menjadi kader Muhammadiyah yang khaffah, Insya Allah. Akhirnya dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut saya pun bertekad untuk bergabung menjadi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat "Raushan Fikr" FKIP-UMM tepat saat saya lagi biru-birunya dengan dunia per-kampus-an di tahun 2013.

Setelah berproses sebagai kader selama sekitar satu tahun dan mencoba meng-upgrade diri, akhirnya pada Musyawarah Komisariat (Musykom) di bulan Mei tahun 2014 saya mendapatkan amanah untuk bergabung dalam struktural Pimpinan Harian IMM Komisariat "Raushan Fikr" FKIP-UMM Periode 2014-2015. Dan inilah awal untuk saya berproses lebih dalam lagi dan berjuang lebih keras lagi.

Salah satu titik kebahagiaan seorang aktivis menurut saya adalah ketika dunia perkuliahan tidak menuntut terlalu banyak waktu dan pikiran. Dan pada akhirnya hal ini datang menghampiri di awal periode saya sebagai pimpinan harian di Komisariat. Dengan aktivitas dan tugas kampus yang sangat minimalis di semester ini, saya pun mencoba untuk bisa lebih optimal dalam menjalankan amanah di komisariat, walaupun saya harus mengakui kalau terkadang yang namanya malas dan dinamika dalam organisasi itu membuat semangat saya terasa ditelanjangi dan akhirnya saya pun terkadang mengabaikan amanah tersebut.

Setengah periode telah saya jalani. Tentunya banyak perlajaran dan dinamika yang telah saya lalui. Sejujurnya tidak gampang memang untuk melalui semua itu apalagi saat bertemu dengan yang namanya "dinamika". Duuuhhh, sungguh hal inilah yang terkadang membuat saya berpikir untuk hengkang dari organisasi. Namun, di satu sisi saya berpikir kalau saya hengkang dari organisasi, maka tentu saya akan punya banyak waktu luang yang bisa saja saya manfaatkan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat omong kosong belaka. Selain itu, saya juga tentunya menemukan keluarga di IMM, sehingga pikiran yang tadi bisa saya buang jauh-jauh ataupun saya tanam dalam-dalam.

Saran saya buat mahasiswa-mahasiswa berjeniskelamin "manja", jangan deh coba-coba berpikir untuk jadi aktivis, cewek maupun cowok. Mungkin kalau pinjam istilah Band Slank, "di sini bukan tempat anak-anak manja", sungguh cocok untuk dunia organisasi. Dan yang mungkin cukup ekstrim dan sering itu adalah dunia malam. Berbeda dengan dunia malam yang dimaksud Bang Ungu dalam lagunya yag berjudul "Kupu-kupu Malam", dunia malam para aktivis itu kalau bukan di komisariat yang di warung kopi. Jadi, yang namanya rapat sampai jam 23.00 itu sudah jadi makanan harian dan kalau rapat sampai jam 00.00 itu makanan mingguan. Bagaimana, tertarik...??.

Pada Akhirnya
Sekedar untuk refleksi bukan untuk sensasi.
Saat anda melihat nilai saya di atas, ketahuilah kalau saya ini punya kemampuan editing photoshop yang cukup mumpuni. Bercanda.

Setelah berakit-rakit ke hulu, akhirnya saya sampai di penghujung semester 3. Tentu momen yang paling saya tunggu-tunggu bukan saat wanita idaman saya datang ke kost dan tiba-tiba menyatakan cinta. Yap, momen yang paling saya tunggu dan saya nanti sambil nyengar-nyegir adalah menunggu bapak-ibu dosen mengiput nilai saya di portal Info KHS. Setelah hampir 2 minggu dibuat bersabar oleh dosen-dosen saya, akhirnya semua nilai saya udah pada nongol dengan hasil yang cukup memuaskan.

Nilai yang teman-teman lihat di atas itu asli, sekalipun saya sudah jujur kalau saya bisa editing di Photoshop. Saya memajangnya di situ bukan bermaksud untuk cari sensasi tapi, semata-mata untuk refleksi. Selain itu alasan saya memajang nilai saya di atas karena ternyata di era modern dan kompetitif ini, masih saja ada jenis mahasiswa yang anti organisasi dan berkegiatan di luar kampus dengan dalih karena ingin fokus kuliah dan dapat IP bagus. Helllloooowwwww. Hari gini mau IP bagus dan cepat lulus tapi, taunya cuman kerja soal...??. Palingan kalau kalian mahasiswa FKIP, mentok jadi Guru yang itu-itu aja. Semoga dengan melihat IP saya di atas dan tau kegiatan saya di IMM juga cukup padat, jenis mahasiswa di atas bisa dapat hidayah dan segera insaf. Aminnn.

Dengan berbagai rutinitas perkuliahan yang cukup longgar namun, organisasi yang padatnya nggak terbendung, saya mendapatkan IP 3,71 di semester 3 ini sejujurnya cukup di luar ekspektasi. Walaupun semester sebelumnya saya mampu membobol IP sampai 3,88 yang artinya semester ini terjadi penurunan tapi, sejujurnya saya hanya berharap dapat IP minimal 3,50. Bukan apa-apa, banyak alasan sehingga cukup pesimis bisa dapat IP yang lebih baik dari semester sebelumnya. Mulai dari mata kuliahnya yang cukup ekstrim-ekstrim ditambah lagi ada 2-3 orang dosen saya yang cara ngajarnya itu membuat saya ingin selalu ke toilet (biar nggak kedengeran) untuk teriak-teriak maki tuh dosen.

Yah, dengan segala warna dan fariasi kejadian yang saya lalui selama semester 3 ini, saya ingin tetap selalu bersyukur kepada Allah SWT atas segala yang telah diberikan kepada saya. Orang tua, teman-teman di IMM maupun di kelas, para dosen termasuk yang cukup ngejengkelin, dan terakhir buat diri saya sendiri yang telah rela berjuang untuk diri saya sendiri (ngomong opo sih arek iki..??).

Salam Perjuangan Mahasiswa Perantauuu....,


Andi Akbar Tanjung
@Kamar Kost Ter-berantakan.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar