Wakil Komisi X DPR RI, Blak-blakan Soal Politik di Seminar Politik IMM Malang.

Suasana Seminar. Foto oleh Immi. Vina.
"Kalau ada Partai Politik bekerja bukan untuk "kemenangan" itu namanya bukan Partai Politik"
-Ir. H.M. Ridwan Hisyam-

Kemarin pagi disaat saya lagi enak-enaknya berintenet ria di dalam kamar kost saya dengan fasilitas wifi dari modem andalan saya, tiba-tiba ada chatting-an Facebook dari senior saya di IMM Komisariat "Raushan Fikr" FKIP-UMM. Beliau menginformasikan kalau jam 12 siang nanti di Basement Dome UMM akan ada seminar pilitik nasional yang diadakan oleh PC IMM Malang. Seingat saya memang beberapa waktu yang lalu saya pernah melihat poster acara ini bersileweran di Facebook dan pematerinya cukup keren. Tanpa pikir panjang-panjang saya pun memutuskan untuk berangkat. Yah, hitung-hitung biar saya tidak membusuk di dalam kamar kost.

Saya kemudian berangkat dengan teman saya yang satu daerah, satu pondok, dan juga merangkap sebagai teman satu kost saya yang kebetulan juga kader IMM namun, dia dari Komisariat "Fastcho" FEB-UMM. Sesampainya di depan Gedung Dome UMM, terpampanglah sebuah spanduk yang mempertontonkan wajah 3 orang yang "sejujurnya" tidak ganteng-ganteng amat tapi, soal jabatan yang mereka duduki sungguh sangat "gagah". Yah, mereka adalah Pak Zulkifli Hasan -Ketua MPR RI-, Pak Ridwan Hisyam -Wakil Komisi X DPR RI- dan yang terakhir Pak Muhadjir Effendy -Bapaknya Arek-arek UMM-.

Sesaat sebelum saya memasuki ruangan, teman saya tadi berkelakar kalau palingan nanti Pak Zulkifli hanya mengutus perwakilannya dan saya pun diam mendengarkannya. Setelah menunggu beberapa saat ketika acara akan di mulai, "berkotek-lah" seorang gadis yang bertindak sebagai "single MC" dan mengucapkan selamat datang kepada "perwakilan" dari MPR RI yang bertugas untuk menggantikan Pak Zulkifli. Ternyata kelakar-an teman saya tadi di-amin-i oleh malaikat langit dan bumi.

Posisi Pak Zulkifli dalam seminar kali ini hanya sebagai keynote speaker sehingga, subtansi materi tidak terlalu banyak yang perlu saya khawatirkan. Kenapa saya bersyukur..?. Karena "sejujurnya" dengan pendapat subjektif saya, pembawaan materi pembuka oleh pengganti Pak Zulkifli ini tidaklah terlalu menarik dan bahkan terkesan cepat dan singkat. Mungkin karena beliau ada kegiatan di salah satu SMA di Kepanjen atau bagaimana, entahlah. Soal siapa yang menjadi pengganti Pak Zulkifli tadi saya rasa tidak etis kalau saya sebutkan yang jelas beliau ini orang MPR RI juga.

Memasuki Sesi Panel
Entah karena apa yang terjadi sehingga kami para peserta diminta untuk melakukan "ritual menunggu" sesaat setelah keynote speaker menyampaikan orasinya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya datanglah pemateri untuk seminar yang mengusung tema "Peran Rekonsiliasi Kebangsaan dalam Meneguhkan Nilai Peradaban Pancasia" (nggak usah dipikir tuh tema, karena kalau mahasiswa ngusung tema itu indah namun, terkadang tidak layak untuk dicerna oleh otak dengan IQ yang berada di bawah garis kemiskinan). Beliau adalah Ir. H.M. Ridwan Hisyam yang saat ini bertakhta di DPR RI sebagai wakil ketua Komisi X.

Di mulai-lah acara seminar tersebut yang dimoderatori oleh seorang immawan yang namanya saya lupa tapi, yang jelas beliau ini berasal dari IMM Komisariat "Tamaddun" FAI-UMM. Di awal orasi yang dibawakan oleh Pak Ridwan "sejujurnya" (karen saya orang jujur, preeettt :P) agak sedikit me-ninabobok-kan saya dan mungkin juga beberapa peserta. Bukan karena apanya, beliau di awal-awal seperti kembali membacakan CV-nya yang sebenarnya sudah dibacakan secara panjang lebar oleh moderator sebelum beliau menginjak kaki di podium. Apalagi CV beliau yang dibacakan moderator itu tidak pendek loh, sampai saya rasanya bosan.

Setelah beliau bercerita tentang dirinya yang suueeeper lengkap (sampai-sampai saya tau kalau beliau ini punya 4 anak yang bungsu kelas 5 SD, terus 2 anaknya di kedokteran Unair, dan yang tua itu jurusan hukum Unair, dan juga sampai sepak terjanganya di dunia politik beliau ceritakan), mulai lah beliau sedikit membahas tentang materi. Namun, kata seorang teman saya, kalau bercerita tentang diri sendiri itu merupakan ciri khas orang-orang besar di negeri ini. Entah apa alasan di balik itu yang pasti kita berpikir yang baik-baik saja buat mereka.

Alangakah Hancurnya Negeri Ini
Mungkin diantara teman-teman pernah ada yang menonton sebuah film yang berjudul "Alangkah Lucunya Negeri Ini" yang bercerita tentang dunia pendidikan di kalangan anak jalanan yang kerjanya mencopet. Nah, dibagian awal setelah Pak Ridwan bercerita tentang dirinya, beliau membawakan beberapa fakta menarik tentang betapa "hancurnya" negeri kita ini. Tak tanggung-tanggung beliau sampai mengurainya dari hampir semua lini di kehidupan ini. Pendidikan, sosial, budaya, hukum , pertahanan, pangan, dan sampai pada masalah generasi muda sekalipun.

Dengan pembawaan dan intonasi yang sangat hidup, beliau membeberkan fakta -fakta mengerikan tersebut dengan sangat menarik. Saya saja langsung merasa ingin lenyap atau bahkan bunuh diri saja daripada hidup di negeri yang seakan kiamatnya itu kecil-kecilan tapi tiap hari. Dan yang lebih parah, saya malah sempat berpikir kalau hidup di Bumi Pertiwi dengan kondisi seperti ini tidak lebih baik daripada ketika nanti Malaikat Maut datang "memeluk" saya.

Semuanya Perlu Transaksional
Salah satu fakta yang membuat dada saya terasa nyeseknya minta ampun adalah ketika Pak Ridwan membicarakan fenomena politik Indonesia hari ini. Sekalipun terasa nyesek namun agak sedikit terasa adem di hati ketika Pak Ridwan membeberkan kebobrokan politik (yang sebenarnya beliau pun tidak mengatakan kalau tidak melakukannya) dengan pembawaan yang blak-blakan atau apa adanya. Inilah mungkin makna dari pepatah "Sampaikanlah kebenaran walaupun itu pahit".

Melihat dunia politik kita hari ini yang sampai-sampai mungkin ada yang tiba-tiba berlagak lupa ingatan ketika mendengar kata "politik", memang sudah terasa membuat "polusi udara" yang parah. Mereka berlagak seperti itu bukan karena semata-mata mereka salah namun, memang beginilah dunia politik sekarang ini. Dengan sendirinya mempertontonkan "kemaluan-nya" tanpa rasa malu sedikit pun.

Berbicara politik Indonesia hari ini sudah seperti sayur tanpa garam kalau tidak di dampingi dengan yang namanya "transaksional". Bahkan Pak Ridwan sendiri pun mengakui sendiri akan hal ini. Sampai-sampai berliau berkata "Jangan pernah bermimpi untuk jadi politikus kalau tidak punya dana". Untuk merasakan empuknya kursi di Senayan sendiri, Pak Ridwan secara terbuka mengakui mengahbiskan dana sebesar Rp. 5.000.000.000,- (anak TK mungkin masih bingung ngitung nol-nya) untuk daerah pemilih Malang dan sekitarnya. Yah, memang tidak semuanya menghabiskan dana sebesar itu karena ada juga teman beliau yang sama-sama di Komisi X DPR RI itu cuman menghabiskan Rp. 1.000.000.000,- tapi, si temannya ini perlu berkeliling ke pengajian-penhajian ibu-ibu muslimat (nggak usah dibayangkan cepaknya keliling pengajian). Yah, kalaupun ada yang mentok-mentok di bawa itu lagi tapi, sama aja. Sama-sama harus pake uang.

Idealisme Angkatan Muda
Menghadapi dunia politik Indonesia yang seakan lebih seram dari Hutan Amazon ini tentunya tidaklah mudah. Buat mahasiswa-mahasiswa yang pernah jadi mahasiswa jenis kura-kura (kuliah-rapat, kuliah-rapat) tentunya pernah berjumpa dengan jiwa Idealis. Yah, paling tidak sekali-dua kali lah. Dan inilah yang kata Pak Ridwan perlu dipertahankan di era politik yang tidak lebih suci dari "Dolly" yang kemarin digusur di Pemkot Surabaya.

Kemudian Pak Ridwan menyambung, "jangan pernah menanggalkan baju Idealisme ini sekalipun untuk alasan apapun" karena ketika sekali saja kita menanggalkannya maka itu bisa jadi bumerang buat kita di kemudian hari. Sebagai contoh yang sekarang ini lagi hangat di media. Betapa orang-orang saling menggumbar kesalahan masa lalu yang sekalipun kejadiannya itu sudah satu dekade lebih di belakang kita namun, karena yang melakukannya adalah orang besar di negeri ini maka akan dicari cela untuk bisa dibesar-besarkan. Sulit memang namun, bukan kah kita sekarang hidup di dunia...??, dimana tempatnya untuk bersusah-sudah dulu, kalau mau enak yah nanti di Surga.

Kemana Pak Muhadjir....?
Di atas saya menyebutkan kalau di spanduk selamat datang ketika memasuki ruangan seminar bahkan belakangan saya sadar kalau di spanduk background panggung pun ada terpampang 3 (tiga) muka orang yang sebenarnya akan mengisi acara seminar, yaitu Pak Zulkifli, Pak Ridwan, dan Pak Muhadjir. Namun, sampai Pak Ridwan selesai memaparkan materinya plus lengkap dengan sesi tanya jawab yang langsung disusul penutupan, Pak Muhadjir yang waktu itu juga bertindak sebagai pemateri dengan membawakan tema yang sangat saya tunggu yaitu tentang "Muhammadiyah dalam Menyikapi Politik Indonesia" tak kunjung menampakkan batang-nya (maksud saya batang hidungnya).

Apapun alasan Pak Muhadjir tidak datang sampai akhir acara dan bahkan panitia tidak menjelaskan alasan tidak hadirnya orang nomor 1 di UMM ini tentunya akan memunculkan banyak spekulasi di kepala dan kecewa di hati para peseta seminar yang waktu itu secara hitungan kasar saya hampir menyentuh angkah 400 orang. Apalagi waktu itu peserta yang datang sangat bervariasi baik secara organisasi gerakannya maupun kampusnya. Dan parahnya lagi, tempat diadakannya seminar ini loh di UMM sendiri, mau ditaruh dimana muka kiteee sebagai anak UMM di depan teman-teman dari Univ. Muhammadiyah Sidoarjo, Jember, ITN, dll..?.

Wallahu 'alam Bish-shawab..


Andi Akbar Tanjung
@Tempat Pendidikan Politik Nasional IMM Malang.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar