[Resensi] Titik Nol; Makna Sebuah Perjalanan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Apa kabar pembaca setia blog saya (itupun kalau ada)...??.

Setelah lebih dari dua bulan blog saya "menjanda", akhirnya kali ini saya bisa kembali membelainya dengan pembahasan yang baru. Sebenarnya, saya meninggalkan blog ini bukan semata-mata karena masalah keringnya ide di kepala saya tapi, yang ada hal lain yang sangat merayu saya untuk melakukannya yaitu, dunia perkuliahan yang seakan berparas ayu laksana Sinta. Mungkin ini adalah karmah dari tulisan saya sebelumnya, dimana saya bercerita tentang Semester III yang telah saya lalui. Pada masa itu, saya benar-benar merasakan bebas dari tugas-tugas kuliah namun, semester ini seakan ingin menjadi pembanding dan tampil berbeda 180 derajat.

Pada tulisan kali ini, saya akan mencoba memasuki dunia baru dalam genre kepenulisan saya, yaitu Resensi Buku. Buat saya, tulisan ini adalah tulisan perdana saya dalam menulis resensi buku. Saya tertarik untuk memasuki dunia ini setelah membaca beberapa resensi buku di blog orang lain dan saya merasa kalau mereka sungguh hebat untuk hal itu sehingga, saya pun merasa tertantang untuk melakukannya juga. Selain itu, saya juga merasa dengan menulis resensi dari buku yang telah saya baca dengan demikian saya telah mengikat ilmu yang telah saya dapatkan.

-oo0oo-


Judul     : Titik Nol; Makna Sebuah Perjalanan
Penulis  : Agustinus Wibowo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun    : 2013
Tebal     : xi + 556 Halaman
Harga    : Rp. 98.000 / Togamas Rp. 74.000
"Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah kemana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan."
Seperti yang saya ceritakan di tulisan saya yang lalu, kalau saya mengenal dan tertarik untuk membeli buku ini setelah saya membaca tulisan Ka' Dhito di blognya (www.muhdhito.me). Beberapa bulan setelah terbeli, buku ini kemudian menjadi penunggu rak buku saya hingga pada akhirnya pada tanggal 4 April kemarin setelah membaca Dunia Sophie, saya memutuskan untuk membacanya.

Secara garis besar buku ini bercerita tentang pertualangan, traveling, dan perjalanan. Berbeda dengan buku perjalanan atau traveling pada umumnya yang banyak bercerita tentang bagaimana mengurus visa dan paspor, tips dan trik, harga-harga kebutuhan ketika mengunjungi suatu tempat, ataupun cerita pengalaman dan sensasi dari mengunjungi suatu tempat seperti buku The Naked Traveler-nya Mbak Trinity. Buku ini sesuai dengan judulnya, mencoba menyajikan sebuah perjalanan yang lebih kepada pencarian Makna Hidup dari sebuah perjalanan.

Ceritanya berawal ketika Agustinus Wibowo selaku penulis memustukan untuk merantau ke negeri Nenek Moyangnya (China) dalam rangka melanjutkan setudinya ke Universitas Tshinghua. Menjalani kehidupan di salah satu universitas terbaik China tentu bukanlah hal yang mudah. Ambulans yang mengangkut mahasiswa yang telah mencoba belajar sambil "melayang" dari gedung lantai 4-5 kemudian menjadi pemandangan biasa. Apalagi mengingat penulis bukanlah seorang siswa yang "outstanding" dalam hal keilmuan namun, harus bersaing dengan para pemenang olimpiade nasional dan bahkan internasional.

Di akhir masa studinya, penulis mencoba untuk melakukan refreshing dengan melakukan pendakian gunung. Tanpa disangka dari perjalanan liburan inilah yang kemudian menjadi turning point penulis untuk terjun ke dunia traveling. Hal ini berawal ketika penulis bertemu dengan seorang traveler wanita dari Malaysia bernama Lam Yet. Dari gadis inilah dia belajar untuk bisa memaknai kehidupan dengan berkelana untuk melihat langsung kehidupan itu sendiri. Kemudian penulis memberanikan diri untuk menghubungi orang tuanya di Indonesia untuk berencana meninggalkan dunia perkuliahannya yang tinggal menghitung hari menuju pintu pemakaian Toga.

Dengan mindset kebanyakan orang tua yang menyekolahkan anaknya untuk tujuan pekerjaan tentunya penulis tidak mudah untuk mendapatkan restu dari orang tuanya. Penolakan terbesar pun datang dari Ayah penulis. Namun, dengan segala cara penulis menjelaskan bahwa dia ingin mencari makna kehidupan-nya sendiri yang kemudian mampu meluluhkan keteguhan orang tuanya.

Setelah berhasil mendapat restu dari orang tuanya, penulis pun berencana untuk melakukan perjalanan darat dari Beijing ke Afrika Selatan (bukan jalan kaki loh yahh..). Penjalanan pun dimulai dengan melintasi Tibet. Sebuah daerah pegunungan yang mengajarkan penulis tentang betapa kerasnya upaya warga lokal untuk mencapai titik tertinggi dari sebuah pengabdian kepada Tuhan. Perjelanan kemudian dilanjutkan ke Nepal. Sebuah daerah yang dikenal sebagai puncanya dunia. Daerah yang selau menari-nari di atas awan. Di daerah perbatasan India-China ini, penulis melakukan pendakian selama skitar 21 hari untuk menaklukkan gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest. Penulis kemudia belajar betapa untuk mencapai tujuan yang indah tidaklah mudah.

Setelah sukses menaklukkan puncak dunia, penulis terus melanjutkan perjalanan ke India. Kuningnya kulit Buah Mangga tak semanis isinya. Itulah ungkapan yang pas untuk menggambar perasaan penulis ketika mengunjungi India. Sebuah negara yang jauh dari keindahan film Bollywood-nya. Negara yang bisa menjadi toliet terbesar di dunia karena pemanfaat setiap sudut kota sebagai toilet. Di India pulalah penulis kemudia harus berjodoh dengan penyakit Hepatitis. Di India penulis juga betemu kembali dengan seorang teman yang sempat ditemuinya di Nepal. Seorang wanita Malaysia bernama Lam Li, yang telah mengajarkan penulis tentang sebuah perasaan tak terungkap yang secara malu-malu diakuinya sebagai "Cinta". Belakangan penulis ketahui kalau Lam Li, adalah adik dari Lam Yet yang merubah hidupnya menjadi seorang traveler.

Perjalanan penulis kemudian dilanjutkan ke Pakistan, tepatnya di daerah Kashmir, untuk menjadi relawan gempa. Di sini penulis bertemu dengan orang-orang yang mengajarkan betapa hidup harus tetap berlanjut dengan selalu semangat menatap masa depan. Setelah menetap selama beberapa bulan di Pakistan, penulis kemudian bergerak ke Afganistan. Negara padang pasir. Negara berselimut debu. Sebuah negara dengan Islam sebagai landasan namun, perang dan ledakan menjadi makanan. Sebuah negara tempat penulis belajar tentang esensi dari ke-Tuhan-an, persaudaraan, dan melihat peperangan. Di negara ini penulis memilih menetap sejenak untuk mengisi pundi-pundi materinya dengan menjadi seoang Jurnalis. Ketika, uangnya sudah hampir cukup untuk melanjutkan perjalanan, sebuah berita datang dari Negeri Pertiwi.

Berita yang membuat Lam Li harus meneriaki penulis untuk pulang. Berita yang kemudian mengantarkan penulis ke tempat dimana dia bisa belajar makna kehidupan lebih dari apa yang didapatkannya selama ini. Sebuah berita yang berujung kematian.

-oo0oo-

Agustinus Wibowo selaku penulis telah berhasil memberikan sebuah penjelasan yang jernih tentang makna kehidupan dari sebuah perjalanan. Hal yang dibahas pun merupakan hal-hal inti dari sebuah kehidupan manusia. Mulai dari cinta, persahabatan, kekeluargaan, kematian, semangat hidup, dan bahkan sampai ke-Tuhan-an pun tidak luput dari pembahasannya. Dari Titik Nol ini, kita juga belajar bahwa sebuah "perjalanan" pasti akan bertemu dengan kata "pulang".

Hari ini, tanggal 27 Rajab 1436 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 16 Mei 2015 Masehi, kita juga patut belajar dari sebuah perjalanan manusia agung, Nabi Muhammad SAW. yang dalam Islam kita mengenalnya dengan peristiwa Isra' Mi'raj. Semoga dari setiap perjalanan hidup ini bisa menjadi ladang permbelajaran buat kita semua. Amiinnnnn.


Andi Akbat Tanjung
Malang, 16 Mei 2015
@Kamar Kost Tercinta

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar