Darul Arqam Gombara dan Tantangan Generasi Z

Reuni Akbar IKAPEM 2016 (source: Grup Facebook IKAPEM)
Pada tanggal 29-31 Juli 2016, Ikatan Alumni Pesantren Muhammadiyah (IKAPEM) Pon-Pest Darul Arqam Muhammadiyah Gombara akan melaksanakan serangkaain kegiatan dalam rangka Reuni Akbar (RIAK) IKAPEM 2016. Sepanjang perjalanan saya menjadi keluarga besar Gombara, ini merupakan reuni yang secara informasi, persiapan, dan keterlibatan alumni terbanyak dan terheboh. Respon dari berbagai angkatan pun sangat terasa dan saling mendukung. Yang paling anyar adalah respon dari Kakanda Shamsi Ali di New York City, Amerika yang mampu membangunkan semangat para alumni untuk ikut berpartisipasi.

Di sisi lain, saya harus mengelus dada karena bertepatan dengan pelaksanaan reuni, saya masih harus menjalankan tugas KKN saya di Kab. Magetan, Jawa Timur. Namun, dari dalam diri ini, rasanya ada yang menggerutu untuk tetap bisa telibat dalam momentum sakral dan sangat jarang dilaksanakan ini. Bagaimana tidak, melalui reuni inilah saya bisa memutar kembali kenangan dari sepenggal perjalanan hidup saya yang penuh dengan proses metamorfosis hingga terbentuknya seorang Akbar hari ini. Sehingga, sebagai pemuas diri dan wujud kehadiran saya secara tidak langsung, tulisan ini saya persembahkan sebagai representatif kehadiran dan sumbangsih saya terhadap pesantren tercinta.

-ooOoo-

Sebagai manusia yang terlahir sebagai generasi Y (lahir antara tahun 1977-1997) namun hidup di zaman generasi Z atau dikenal juga Generasi Net, saya merasakan betul bagaimana perkembangan dan perubahan dunia yang begitu pesat dan cepat. Dari awalnya HP berlayar hitam putih hingga HP pintar, dari film Zaras hingga Anak Jalanan, bahkan dari lagu Air Diobok-obok sampai Lelaki Kardus saya lalui hanya dalam rentang waktu tahun 2000 - 2016. Perkembangan dunia yang dinamis dan serasa magis ini tentunya akan memberikan pengaruh di beberapa aspek kehidupan kita tak terkecuali pada dunia pendidikan.

Perkembangan dunia pendidikan yang sangat dekat pengaruhnya dengan perkembangan teknologi pada dasarnya sudah menjadi konsekuensi logis dari kemajuan berpikir dan gaya bertahan hidup manusia. Konseskuensi penggunaan teknologi ini kemudian menawarkan dua pilihan kepada kita yaitu dampak baik dan buruk. Kedua pilihan ini kemudian bergantung dari bagaimana kita menyikapi perkembangan zaman tersebut. Hal inilah yang kemudian menjadi cukup dilematis bagi dunia pendidikan ke-pesantren-an. Sehingga, perlu dilakukan perancangan strategi yang matang dan terukur agar pendidikan pesantren tidak sekedar ikut perkembangan zaman tanpa mempertimbangkan konsekuesi yang ada di depan.

Dalam dunia pesantren sendiri khususnya Gombara, perubahan karakter anak-anak generasi Z ini tentunya harus bisa disikapi sesuai dengan karakter zaman mereka. Metode pendidikan di zaman Kakanda Arum Spink, Anis Matta, Ayunda Hartini Makassau, dsb tentunya berbeda dengan zaman kami angkatan tahun 2000-an. Di zaman mereka pembentukan kebiasaan yang diawali dengan pemaksaan bisa berakhir aman-aman saja namun, di zaman kami metode ini jelas akan berakhir di kantor polisi. Hal ini terjadi mengingat perubahan zaman telah mempengaruhi mental santri dan juga orang tua santri yang semakin melemah.

Perkembangan Teknologi
Pondok pesantren sebagai tempat mekarnya peradaban Islam tentu saja tetap harus bisa berjalan beriringan dengan perkembangan zaman hari ini. Memasuki awal tahun 2000-an perkembangan dunia modern di Indonesia telah memasuki masa perkembangan teknologi yang sangat cepat. Hal ini kemudian merambat tak terbendung ke semua ruang kehidupan tanpa terkecuali dunia pendidikan pesantren. Seperti yang saya katakan di atas, perkembangan ini memiliki 2 dampak yang harus dikelola dengan benar agar bisa berjalan beriringan dengan jati diri pendidikan pesantren.

Pesantren Darul Arqam Gombara yang berlokasi di pinggiran Kota Makassar, salah satu kota metropolitan di Indonesia, tentunya merasakan langsung dampak dari perkembangan teknologi tersebut. Sebagai institusi pendidikan pesantren, Gombara tidak bisa secara langsung membentengi diri dari perkembangan teknologi tersebut karena bagaimanapun hal tersebut merupakan bagian dari tuntutan zaman di era modern ini. Namun, bukan berarti kita harus menelan perkembangan itu secara bulat-bulat karena penggunaan teknologi yang membabi buta pun sudah menunjukkan belangnya hari ini.

Gombara kemudian harus menyusun strategi agar antara perkembangan teknologi dan pendidikan pesantren bisa berjalan secara harmonis. Strategi ini kemudian diharapkan mampu membentuk karakter santri yang nantinya bisa tampil beda dengan mereka yang bukan alumni Gombara dalam hal menyikapi perkembangan teknologi hari ini dan yang akan datang. Hasil konkritnya, Alumni Gombara kedepannya diharapkan tidak ada lagi yang gagap teknologi karena alasan terkurung di dalam gerbang pesantren namun harus tetap bisa paham bagaimana perkembangan dan pemanfaatan teknologi yang baik dan benar. Hal ini perlu disadari mengingat suka atau tidak, mau atau tidak keluaran dari Gombara pun akan berhadapan dengan zaman teknologi.

Lingkungan Rumah yang Merusak
Salah satu tantangan berat dari anak-anak generasi Z adalah perubahan karakter yang labil dan tidak mudah diprediksi. Misalnya, hari ini si A kita lihat sebagai anak yang rajin belajar dan mengaji namun, besok lusa setelah bergaul di lorong sebelah dia sudah berubah menjadi seorang tukang begal (sangar amat yah? -_-). Perubahan yang tidak terkendali inilah yang menjadi kekhawatiran banyak orang tua sehingga memilih untuk "mengamankan" anak mereka ke dalam pesantren.

Pilihan untuk menyekolahkan anak ke pesantren dalam rangka mengamankan mereka dari pergaulan dunia luar yang labil, tidaklah salah. Mengingat perkembangan anak di dalam pesantren lebih mudah untuk dipantau dan dikontrol. Namun, banyak orang tua yang belum sadar bahwa kehidupan seorang santri tidaklah 100% berada di pesantren. Ada saaatnya mereka akan keluar dan pulang ke rumah meskipun itu singkat. Kebanyakan orang tua berpikir bahwa seorang anak yang berlabel santri sudah bisa dipercaya untuk mengatur perkembangan dirinya sendiri meskipun dia baru sebulan di pesantren. Akhirnya banyak orang tua yang memilih bersikap seperti "lepas tanggung jawab" terhadap perkembangan anaknya selama di rumah. Dan dari sinilah awal mula dari malapetaka itu.

Masih banyak orang tua yang tidak tau bagaimana cara bersikap dan berpikir sebagai orang tua yang memiliki anak seorang santri. Mereka belum paham bahwa bersekolah di pesantren juga merupakan sebuah proses yang tidak mengenal kata "instan" (dipikir masak mie yang bisa langsung jadi :P). Apalagi ini menyangkut pembangunan karakter dasar seorang anak. Hal ini pun terlihat banyak terjadi selama saya nyantri di Gombara. Orang tua datang marah dan protes ke pembina pesantren karena karakter anaknya yang tetap bahkan lebih buruk dari sebelum masuk Gombara. Mereka tidak tau bahwa kerusakan karakter itu banyak terjadi saat anak mereka berada di rumah. Belajar merokok, berpakaian preman, dan bahkan megucapkan kata sund*l*, ta* las*, dsb (orang Jawa mengenalnya misu) akan sulit mereka dapatkan selama berada di lingkungan pesantren. Sehingga, Gombara perlu membuat sistem yang bertujuan untuk membangun kesadaran orang tua santri bahwa menjaga perkembangan karakter seorang anak adalah tanggung jawab bersama antara pesantren dan orang tua karena pembangunan karakter manusia adalah sebuah proses yang harus dikawal dari berbagai sisi.

Magetan, 27 Juli 2016
@Posko KKN 45 UMM
Desa Sidomukti, Kec. Plaosan

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar