KKN Bercerita 1; Pendidikan Tinggi di Mata Kaum Akar Rumput

What a marvelous view. Sidmukti's potential land and Mt. Lawu in frame.
Saat ini saya sedang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN), salah satu program yang menandakan kalau saya sudah masuk kategori mahasiswa tua yang sebentar lagi akan dideportasi ke dunia pertarungan sesungguhnya. Seperti dengan program aplikatif lainnya, KKN tentu saja menyajikan banyak cerita, pengalaman, pandangan, dan realitas kehidupan yang baru. Hingga akhirnya, hari ini saya menemukan sebuah realitas pendidikan dari sebuah desa di kaki Gunung Lawu, Magetan yaitu Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan.

Desa Sidomukti terkenal sebagai sentra kain batik andalan Kabupaten Magetan dengan batik khasnya yang dikenal dengan sebutan Batik Pring. Sesuai dengan namanya, Batik Pring merupakan batik yang memiliki motif khas bambung (pring dalam Bahasa Jawa). Selain sebagai pengrajin batik, mayoritas masyarakat desa juga berporfesi sebagai petani sayuran, penjual benih tanaman, dan peternak. Dengan segala potensi sumber daya alam yang dimilikinya maka desa ini jelas memiliki 1001 alasan untuk maju secara ekonomi.

Kemampanan secara sumber daya alam dan ekonomi masyarakat belum bisa menjamin kualitas kemajuan berpikir dan berkembang masyarakat Desa Sidomukti khususnya di sektor pendidikan. Ada ketimpangan berpikir dan cara pandang masyarakat tentang bagaimana dan seperti apa dunia pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Ketika melakukan survei lapangan sebelum keberangkatan KKN, fakta dan data yang kami himpun menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Desa Sidomukti masih menjadikan pendidikan tinggi sebagai sesuatu hal yang tabu.

Menurut pengamatan saya, hal di atas terjadi dikarenakan oleh dua faktor yaitu, faktor ekonomi dan cara pandang masyarakat yang salah terhadap pendidikan tinggi. Untuk faktor yang pertama memang terjadi pada sebagian masyarakat yang masih berada pada kategori ekonomi pas-pasan. Namun, untuk faktor kedua ternyata juga terjadi cukup banyak di masyarakat yang bahkan berekonomi menengah ke atas. Masyarakat merasa puas pada pendidikan hanya sampai SMA karena ilmunya dirasa sudah pas untuk sekedar mencangkul, menanam, dan mengelola lahan pertanian plus kemampuan matematika kali, tambah, kurang, dan bagi untuk menghitung laba. Titik.

Dengan perspektif yang dangkal dan pragmatis seperti ini tentunya hanya akan melahirkan masyarakat-masyarakat pasif yang sulit untuk berkemajuan. Ketika sumber daya alam yang melimpah ruah dikawinkan dengan masyarakat terdidik disektor itu maka seharusnya hari ini cabe dari Desa Sidomukti bisa tumbuh lebih panjang lagi, sayur kol bisa lebih besar lagi, batik yang bisa dipasarkan lebih luas lagi, dan peternakan yang lebih baik makmur lagi. Selain itu, kesadaran masyarakat juga sangat lemah akan dinamisnya masa depan. Jangan heran dan asal teriaki presiden ketika nantinya 10-20 tahun kedepan banyak orang Singapur, Thailand, dan bahkan Cina menjadi bos di desa pedalaman Indonesia. Ingat MEA sudah berjalan mungkin baru setahun jadi dampaknya belum terasa, kita lihat aja nanti.

Selanjutnya mari kita menganalisis beberapa penyebab masyarakat bisa berpikir demikian dengan pendidikan tinggi. Pertama, realitas jemblosan pendidikan tinggi yang belum bisa "berguna". Beberapa masyarakat berpendapat bahwa buat apa jadi sarjana kalau ujung-ujungnya tetap akan kembali ke desa dan menjadi petani. Saya pun mengamini hal ini ketika sarjana yang keluar adalah mereka yang memiliki kesadaran lemah dan kepekaan sosial yang dangkal dan tidak bisa menjadi pembeda di masyakarat kecuali namanya yang bertitle. Hal ini kemudian menjadi PR mereka yang ber-aktor di sektor pendidikan tinggi termasuk "maha-siswa" agar mbok yoo sadar kalau dirimu itu spesial jadi harus lebih berkualitas.

Kedua, orientasi pendidikan tinggi Indonesia sebagai tempat yang katanya paling berilmu, masih menghambah pada kemauan pasar bukan pada ilmu itu sendiri. Hal ini kemudian mengilhami pemikiran masyarakat bawah kuliah adalah untuk kerja bukan lagi pada pengembangan, perbaikan, dan kemajuan masyarakat. Sehingga, bagi kebanyakan masyarakat anak kuliah itu harus paling tidak bisa mengembalikkan modal. Semuanya serba pasar bukan.

Ketiga, berpusatnya kaum terdidik yang sadar akan realitas kehidupan di kota-kota besar. Selama KKN saya merasakan betul bagaimana dampak perubahan yang bisa dilakukan oleh mereka yang lahir dari lahan akademisi. KKN saja yang hanya sebulan dan itupun kerjanya terkadang untuk sekedar mengejar nilai bisa "sedikit" memberikan perubahan dan penyadaran pada desa dan masyarakat apalagi kalau ada yang lebih. Saya kemudian bermimpi bagaimana jadinya ketika para professor dan guru besar yang sudah pensiun dan tentunya dapat tunjangan yang tetap mengalir dari pemerintah itu mengahabiskan masa tuanya dengan mengabdi di pedesaan. Yah., kalau nggak mau mati di pedesaan minimal selama satu kali ganti presiden lah. Itu sih mimpi saya, mana mimpi mu..??, :D

@Posko KKN 45 UMM
Desa Sidomukti, Magetan
08 Agustus 2016

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar