Membaca Kekuatan Kampanye Putaran Kedua Jakarta


Secara historis, pemilihan umum serentak telah berlalu pada 15 Februari 2017 namun, jika ditinjau dari histeria yang ada, pemilu serentak masih menyisahkan hiruk pikuk yang masih nyaring. Nyaringnyapun masih terdengar di daerah masing-masing namun terkhusus untuk Pilkada DKI Jakarta, nyaringnya terdengar di seontera Indonesia.
Semenjak Jokowi melakukan hattrick jabatan dari Walikota Solo menjadi Gubernur Jakarta dan kemudian meloncat menjadi Presiden, posisi Gubernur DKI Jakarta menjadi begitu menggiurkan. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat Jakarta sebagai Ibu Kota Negara menawarkan peluang populis nasional untuk setiap Gubernurnya. Kita pun bisa mengatakan bahwa perebutan posisi DKI 1 adalah seperti berebut posisi RI 3.
Penentuan Putaran Kedua
Hasil quick count pilkada Jakarta dari berbagai lembaga survey memberikan tanda lampu kuning akan adanya pilkada putaran kedua. Sebut saja hasil quick count dari Cyrus Network, PolMark Indonesia, Lingkar Survey Indonesia (LSI), dan Indo Barometer semuanya menunjukkan hasil bahwa tidak ada pasangan yang mampu meraih suara 50% atau lebih. Data inipun diberikan lampu hijau dengan keluarnya hasil rekapitulasi suara pilkada Jakarta oleh KPU pada Minggu, 26 Februari 2017 kemarin. Dengan hasil seperti ini, tentunya hiruk pikuk atau kebisingan Pilkada Jakarta belum menemukan ujungnya.
Jika dilihat dari hasil rekapiltulasi suara oleh KPU, pasangan nomor urut satu, Agus-Sylvi berada diposisi bawah yang hanya mendapatkan jatah 17,05% dengan perolehan 937.955 suara. Hal inilah yang kemarin memaksa pasangan tersebut untuk mengangkat bendera putih tepat di hari pemilihan. Selanjutnya ada Anies-Sandi yang mendapatkan 39,95% yang setara dengan 2.197.333 suara. Kemudian di posisi teratas ada Ahok-Djarot dengan perolehan 42,99% atau setara dengan 2.364.577 suara. Dengan demikian pilkada Jakarta putaran kedua akan menyisahkan persaingan antara Ahok-Djarot melawan Anies-Sandi.
Apabila pilkada ini mulus tanpa adanya gugatan ke Mahkama Konstitusi (MK) maka pilkada Jakarta putaran kedua akan berlangsung pada 19 April 2017. Sebelum memasuki hari pemilihan putaran kedua akan ada proses kampanye selama lebih dari sebulan yaitu pada tanggal 4 Maret sampai 15 April 2017 dengan masa tenang pada tanggal 16 – 18 April 2017. Mengingat waktu kampanye yang lebih sedikit dari putaran pertama, setiap pasangan dituntut untuk menggunakan waktu dengan semaksimal mungkin.
Meskipun waktu kampanye putaran kedua belum dimulai secara resmi, kedua pasangan yang akan bertarung nanti mulai mengadakan kegiatan-kegiatan yang secara subtansi memiliki tujuan untuk kampanye. Hal ini yang mendorong pihak KPU merubah SK KPU No. 41 tahun 2016, yang awalnya hanya menyediakan waktu kampanye pada saat debat menjadi kampanye terbuka yang diselenggarakan beberapa hari sebelum waktu pemilihan guna menghindari kecurangan kampanye terselebung yang lebih besar.
Strategi dan Peluang Kampanye
Saat memasuki masa kampanye terbuka, setiap pasangan tentunya memiliki berbagai strategi dan peluang masing-masing yang menjadi andalan untuk menarik suara masyarakat Jakarta. Strategi pertama yang tentunya digunakan adalah strategi kampanye konvensional dimana setiap pasangan melalukan sosialisasi program kepada masyarakat. Baik secara langsung dengan terjuan dan berinteraksi bersama masyarakat atau dengan membuat kegiatan kampanye besar.
Dengan strategi ini, tentunya dana kampanye setiap calon menjadi salah satu hal sangat penting. Melihat sisa dana kampanye pada putaran pertama, pasangan Ahok-Djarot menyisakan dana kampanye sebesar 6 miliar lebih dan Anies-Sandi 500 juta lebih. Meskipun pasangan Ahok-Djarot memiliki sisa dana lebih besar namun bersadarkan pelaporan kepada KPU, pasangan ini akan memasukkan sisa dana ke dalam kas negara. Berbeda dengan Anies-Sandi, mereka dengan strategis menyatakan bahwa sisa dana kampanye akan digunakan untuk kampanye putaran kedua.
Terlepas dari dana kampanye, kedua pasangan, baik Ahok-Djarot dan Anies-Sandi kedunya adalah pasangan yang cukup berpengalaman di dalam dunia pemerintahan. Tentunya ini menjadi peluang masing-masing pasangan, dimana secara popularitas, kedua pasangan sudah tidak diragukan lagi. Namun, melihat posisi jabatan, tentunya Ahok-Djarot sebagai calon pertahana yang masih menjabat sebagai gubernur aktif Jakarta memiliki peluang lebih.
Meskipun secara konstitusi, memanfaatkan jabatan dalam masa kampanye itu dilarang namun, dengan melakukan kegiatan yang tidak secara langsung berkampanye tentu mampu mengdongkrak popularitas dan elektabilitas calon. Sebagai contoh, pasangan Ahok-Djarot yang baru saja kembali menjabat setelah masa cuti, langsung meluncurkan Bus Transjakarta Vintage. Ini hanya satu contoh, namun ketika Ahok-Djarot terus memuntahkan program atau kebiajakan populis selama menjabat maka tentu ini akan menjadi ancaman tersendiri buat popularitas dan elektabilitas pasangan Anies-Sandi.
Di sisi lain, kasus penistaan agama yang menjerat Ahok, tentu menjadi salah satu penghalang buat dia dan pastinya bisa menjadi peluang tersendiri buat pasangan Anies-Sandi. Dan hal ini pun terlihat dimanfaatkan dengan baik oleh Anies-Sandi yang terpantau dari Instagram resmi tim pemenang mereka “Maju Bersama” yang terlihat mulai melakukan kegiatan Yasinan dua minggu bertutur-turut. Namun, kejadian ini bisa berbalik menjadi keuntungan tersendiri buat pasangan Ahok-Djarot dengan mengkristalnya dukungan dari kalangan Umat Kristen dan Etnis Cina pada putaran pertama kemarin. Apalagi kasus penistaan agama yang menjeratnya tidak cukup untuk mempengaruhi pilihan umat Islam Jakarta secara keselurahan.
Strategi dan peluang terakhir yang bisa dimanfaatkan oleh kedua pasangan adalah melakukan koalisi dengan pasangan Agus–Sylvi. Meskipun terdepak dengan mudah pada putaran pertama, namun pasangan Agus-Sylvi dengan mudah pula berbalik menjadi juru kunci pada pilkada Jakarta putaran kedua. Walaupun tidak menjamin kemenangan namun, keberpihakan pasangan Agus-Sylvi kepada satu pasangan tetap mampu membuat pasangan lain kocar-kacir. Sehingga, strategi dari pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi dalam meminang Agus-Sylvi tentu akan menjadi penentu akhir dari usaha selama masa kampanye mendatang.

*Tulisan ini telah dimuat di website IMM Malang Raya dengan  judul yang sama.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar