Merajut Optimisme Kebangsaan


Judul      : Merawat Tenun Kebangsaan: Refleksi Ihwal Kepemimpinan, Demokrasi, dan
                Pendidikan
Penulis   : Anies Baswedan
Penerbit : Serambi
Terbit     : Cetakan I, Februari 2015
Tebal      : 251 Halaman
ISBN     : 978-602-290-003-0

“Berhentilah mengutuk kegelapan, mulailah menyalakan lilin harapan”
-Anies Baswedan-
Bangsa Indonesia yang telah memasuki usia 72 tahun tentu menghadapi tuntutan dan dinamika kebangsaan yang semakin kompleks. Permasalahan yang menerpa bangsa ini seakan tak ada habisnya. Bahkan, isu-isu kebangsaan yang terjadi belakangan ini terasa begitu berat untuk kita hadapi sebagai bangsa yang berusia tak sampai seabad.
Perpecahan, kegaduhan politik, korupsi, reklamasi, kesenjangan sosial, sistem pendidikan, sampai pada bobroknya moral generasi muda adalah deretan permasahalan yang harus dipikul oleh Bangsa Indonesia hari ini. Dengan sederet permasalahan ini, tentu secara wajar kita memiliki semua alasan tersebut untuk pesimis menatap masa depan bangsa. Sehingga, tidak sedikit dari kita menyerah dengan beratnya beban kebangsaan yang ada.
Namun, pertanyaan mendasarnya adalah, apakah dengan menyerah pada masalah, keadaan akan berbalik menjadi lebih baik?. Maka benarlah sebuah hikmah kehidupan yang berbunyi “lari dari permasalahan tidak akan menyelesaikan masalah”. Kita boleh berada di lorong kegelapan namun menyalakan lilin adalah jalan harapan. Kita boleh terlahir di tengah bangsa yang kusut keadaan namun kita tetap harus merajut optimisme kabangsaan.
Membaca buku Anies Baswedan berjudul “Merawat Tenun Kebangsaan” serasa menemukan oase masa depan di padang tandus akan harapan. Dari buku ini kita bisa melihat masalah bangsa seperti isu perpecahan atas nama agama dan kekerasan horizotal di kalangan sopir angkutan dengan kaca mata optimisme. Kedua masalah tersebut secara wajar membuat kita mengeluh namun, buku ini mengajak kita untuk tetap berteguh.
Buku yang terbit tahun 2015 ini bisa menjadi sumber rujukan optimisme kaum muda yang selalu relevan untuk isu dan permasalahan bangsa hari ini dan mungkin masa depan. Pada dasarnya buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan reflektif seorang Anies Baswedan terkait beberapa isu kebangsaan yang terjadi. Tulisan-tulisan tersebutpun sebagian besar telah dimuat di beberapa koran nasional. Terkhusus dalam buku ini, tulisan-tulisan tersebut ditata ke dalam lima bab yaitu, kepemimpinan, demokrasi, tokoh inspirasi, surat terbuka, dan pendidikan.
Pada bab Kepemimpinan, kira disuguhkan dengan beberapa contoh sifat mendasar bagi seorang pemimpin bangsa. Misalnya pada tulisan berjudul “Peringatan Bagi Pemimpin”, kita akan belajar tentang betapa pentingnya integritas bagi pemimpin. “Republik ini didirikkan oleh orang-orang bertintegritas. Bukan pencitraan, tapi integritas dan keseharian yang ada apa adanya membuat mereka memesona. Mereka jadi cerita teladan di seantera negeri” (hal. 24).
Adapun di bagian Tokoh Inspirasi, kita ajak “mencontek” sifat optimisme kebangsaan seorang Nelson Mandela. Atau sifat lemah tapi menggerakkannya Agus Salim. Sampai bagaimana sifat moderat seorang Kyai pesantren di pedalaman Thailand mampu mengantarkan cucu-nya menjadi Sekjen ASEAN. Adapun di bagian Surat Terbuka, Anies Baswedan lebih mencoba menggerakkan dan memantik optimisme kaum muda Indonesia. Kita ditantang untuk ikut turun tangan melunasi janji kemerdekan bangsa kita.
Selanjutnya terkait ihwal Demokrasi, pembaca akan diajak untuk membangun dunia politik berintegritas demi terwujudnya Demokrasi yang utuh di Indonesia. Kita akan belajar bagaimana George Washington memilih menutup jabatannya di periode kedua disaat keadaan bisa membawanya menjadi presiden seumur hidup. Selain itu, pembahasan menarik juga ada di tulisan berjudul “Meremajakan Pemimpin Partai”. Kita akan membaca bagaimana cara membangun optimisme bangsa melalui partai politik yang hari ini masih dianggap sebagai gerbang awal masuknya kebobrokan di dunia politik Indonesia.
Bagian terahir dari buku ini, ada bab Pendidikan. Pada bab ini, ada tulisan berjudul “Pendidikan dan Kemajuan” dimana di dalamnya kita akan menjumpai sebuah fakta menarik tentang bagaimana para pendiri bangsa memanfaatkan pendidikan untuk merekayasa masa depan Indonesia yang lebih maju seperti yang kita nikmati hari ini. Adapun di tulisan lain, Anies Baswedan mencoba mem-VIP-kan posisi seorang guru dalam membangun peradaban generasi yang cemerlang. Sehingga, apa yang menjadi cita-cita pendidikan yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terwujud dengan baik.
Pada akhirnya, buku ini mampu menyajikan analisis mendasar dari berbagai permasalahan kebangsaan dengan menggunakan sudut pandang demokrasi, pendidikan, dan kepemimpinan. Kehadirannya, tentunya sangat layak untuk dibaca ditengah berkembangnya berbagai persoalan kebangsaan hari ini. Dengan buku ini pula kita bisa menganalisa subtansi permasalahan bangsa seperti korupsi massal e-KTP oleh para penguasa di Senayan. Tentang bagaimana membangun partai politik sebagai pintu sakral masuknya para pemimpin berintegritas untuk Indonesia.
Semua tulisan yang ada pada buku ini nantinya akan bermuara pada solusi bagaimana membangun kehidupan bangsa yang lebih optimis di saat keadaan menawarkan 1001 alasan untuk pesimis. Sehingga, dalam menatap masa depan bangsa Indonesia kita, kaum muda, penguasa, pendidik, para calon pemimpin, bahkan rakyat biasa harus selalu percaya bahwa Ibu Pertiwi masih melahirkan generasi yang berselimut optimisme kebangsaan.

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar