Antara Pulang atau Pergi


Saya pergi untuk pengetahuan dan pulang untuk pengabdian namun, soal kesetian saya pantas diragukan. Bukan soal pasangan tapi ini soal kenyamanan. Kota Makassar sang kota kelahiran dan Kota Malang sang kota kenangan. Saya barada diambang kebimbangan, mau pulang atau bersarang di Kota Malang yang menawan. Kota Makassar butuh pengabdian namun saya terjebak kenangan. Okey., lupakan soal kebimbangan, toh kenangan ada untuk dikenang.-Sang Akhiran AN-

22 Mei 2013 merupakan hari bersejarah dalam kehidupan saya. Yah., tepat pada hari Rabu itu, saya dan kelima teman saya memustuskan untuk meninggalkan kota kelahiran kami, Kota Makassar, untuk sebuah mimpi tentang pendidikan yang melangit. Sejak hari itu kami resmi menyandang status sebagai "Pengembara Ilmu". Kami pergi untuk pengetahuan dan kembali untuk pengabdian.

Masih di hari yang sama karena kami cuma nyebrang pulau dengan waktu tempuh hanya satu jam tiga puluh menit. Tidak lama namun ini pertama bagi saya untuk keluar dari pulau Sulawesi. Naik pesawat pula. Saya dan kelima teman saya kemudian mengikuti alur kehidupan mahasiswa baru di salah satu kota pendidikan di Jawa Timur, Kota Malang. Kami bersarang di Kota Malang untuk menyicipi pendidikan kaum terdepan, katanya.

Tak terasa waktu pun berlalu. Tinggal sejengkal lagi bagi saya untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Dari tahun 2013 ke 2017, total empat tahun saya menitipkan diri dan mimpi di Kota Malang. Di kota ini, tidak butuh waktu yang lama untuk merangkai kenangan dan merasa nyaman. Di sini memang tidak ada menara romantis seperti Eifel namun, dekapannya manis dan sangat harmonis. Entah kenapa, diujung perantauan ini muncul kebimbangan soal pulang atau bersarang. Terkadang, soal kesetiaan saya pantas diragukan.

14 Juni 2017 merupakan hari dimana saya harus pulang ke Kota Makassar. Masih tepat di hari Rabu, saya menjalani ritual pulang terahir saya sebagai mahasiswa. Mendekati hari kepulangan, entah beberapa hari sebelumnya gitu, saya tetiba merasa atau berpikir soal kepulangan kali ini. Ada rasa yang berkecamuk dan labil soal kepulangan ini. Rasanya ini bukan lagi kepulangan tapi kepergian. Bukan pulang ke Kota Makassar tapi pergi dari Kota Malang. Saya merasa ada dua tempat yang sama-sama menjelma menjadi rumah. Two in one seperti permen Kopiko. Saya barada diambang kebimbangan, mau pulang atau bersarang di Kota Malang yang menawan.

Tuh kan jadi bingun sendiri, ini mau pulang atau pergi. Ahh.., beratnya merantau adalah ketika kita telah membangun kenangan tapi pada akhirnya harus ditinggalkan. Mungkin inilah tujuan adanya kata "mengenang". Okey., lupakan soal kebimbangan, toh kenangan ada untuk dikenang.

Okey.., saatnya buat kesepekatan untuk saling mengenang. Kenanglah saya, kamu, kita, mereka, dan Kota Malang.

---

Kota Makassar, 28 Juni 2017
Akbar

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar