Ini Tentang Kepergian Yang Disebut "KEMATIAN"



Saya bukanlah seorang "musisi" yang akan mengantar mu dengan lagu.
Saya bukanlah seorang "pujangga" yang akan mengiringi mu dengan puisi.
Saya bukanlah seorang "milyader" yang akan melapisi pusara dengan emas.
Saya.., saya hanyalah seorang "mahasiswa" yang kebetulan bisa menulis maka, ku antar dan ku kenangan kau dengan tulisan ini.
Terlalu cepat memang, sungguh terlalu cepat semua ini harus terjadi. Entah dengan alasan apa sehingga ungkapan "orang baik akan lebih cepat meninggal" itu bisa muncul. Masih banyak orang jahat yang keharidannya mutlak merugikan orang lain. Ada ribuan "koruptor" di negeri ini, ada banyak pembegal di negeri ini, dan tak terhitung lagi berapa banyak pelaku kriminal di luar sana. Secara logika hemat saya, memang orang-orang seperti merekalah yang pantas memenuhi tanah kosong di negeri ini untuk jadi kuburan mereka. Dan itu pantas. Namun, apalah arti sebuah kepantasan kalau soal kematian hanya Allah yang tau.

Tepat 3 April kemarin, ketika saya sedang enak-enaknya tidur menikmati hari "Nyepi" dengan kesepian dalam tidur setelah begadang semalaman suntuk, tiba-tiba seorang teman saya menggedor-gedor pintu kamar saya dengan dipenuhi nafsu untuk membobol pintu. Saya yang biasanya cuek dan tetap memilih melanjutkan tidur dan menjadikan suara gedoran itu sebagai musik pengatar, entah kenapa tiba-tiba memilih untuk membukakan pintu untuknya.

Setelah membuka pintu, dia pun dengan tergopoh-gopoh masuk ke kamar ku dan berkata.

"Akbar.., kamu perbaikin perasaan mu dulu", katanya dengan raut muka yang serius dan memelas.

"Ada apa...??, berita baik atau buruk nih..??", jawab ku setengah sadar.

"Berita buruk", jawabnya dengan raut muka yang sama melasnya.

"Menyangkut pribadi saya atau gimana...??", tanya saya lagi dengan kesadaran penuh setelah dikagetkan dengan jawabanya.

"Ka' Dzaki meninggal", jawabnya mulus.

Setelah mendengar jawaban intinya, saya hanya bisa melakukan meditasi ringan untuk menyempurnakan kesadaran saya dan langsung mengajaknya untuk ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit yang sangat saya hindari untuk dikunjungi, saya menemukan ada sekitar puluhan orang yang tak lain adalah teman sepejuangan Ka' Dzaki di IMM Aufklarung. Berjalan sedikit saya menemukan teman-teman IMM dari komisariat lainnya dan semakin ke sini, orang semakin banyak yang berdatangan sampai menurut hitungan kasar saya mereka hampir mencapai angka 100 orang.

Saya kemudian merenung di depan rumah sakit, mengingat almarhum dengan semua kebaikannya. Mulai dari meminjamkan saya laptopnya untuk online di kampus sampai pada kesediannya untuk "menampung" saya di kontrakannya di awal kedatangan saya di Malang yang waktu itu tidak kenal siapapun selain dia dan senior-senior saya dari pondok. Tidak bisa memang, sungguh tidak bisa kita menrepsentasikan kebaikan seseorang secara kuantitatif yang hanya penuh dengan angka-angka. Bagaimana pun, kebaikan terkadang luput dari ingatan kita yang akhirnya terlupakan. Sehingga, saya hanya bisa mengingat almarhum dengan semua kebaikannya yang tak terhitung itu.

Ketika saya mencoba untuk flashback ke hari itu, saya hanya bisa merasakan sesak. Bukan hanya karena kepergian almarhum, lebih dari itu suasana Malang hari itu seakan ikut menjadi saksi betapa tidak pantasnya orang seperti almarhum untuk pergi duluan. Namun, memang sekali lagi Allah adalah Sang Pemilik Rencana paling Indah. Semua orang disekeliling saya ikut bersedih tapi, tidak satupun yang berani melawan kuasa Allah. Bahkan untuk sekedar mempertanyakan "kenapa Mas Dzaky harus pergi duluan..??" karena kita sadar bahwa itu adalah pertanyaan yang terkesan menantang semua garis ketentuan Allah SWT.

Selamat Jalan Kanda Dzaky. Dengan semua kisah perjalanan hidupmu di dunia, Insya Allah, Engkau pasti akan mendapatkan pelukan terhangat dari Allah SWT.

Amin..,

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar