Bersekolah, Apakah berarti Belajar?*

Sumber: www.surabaya.tribunnews.com

"Nenek ingin saya memperoleh pendidikan, karenanya ia tidak mengizinkan saya sekolah”
– Margaret Mead –

Pandangan umum masyarakat Indonesia tentang pendidikan hari ini sangatlah sempit. Saat ini, sekolah diidentikkan sebagai satu-satunya tempat untuk belajar. Yang dinamakan belajar adalah bersekolah sehingga jika seorang anak tidak berangkat sekolah berarti dia tidak belajar. Pada akhirnya subtansi belajari menjadi tereduksi. Bahwa belajar hanya terjadi di ruang-ruang kelas pada pukul 7 pagi sampai 12 siang. Selebihnya bukanlah belajar. Padahal makna belajar jauh lebih luas daripada sekedar bersekolah. Sekolah hanyalah satu dari sekian banyak wadah untuk belajar. Jika menggunakan pemahaman mainstream di atas, pertanyaannya kemudian, apakah anak-anak yang bersekolah hari ini berarti sudah belajar?
Faktanya, fungsi sekolah sebagai tempat belajar masih dipertanyakan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amanda Beatty, dkk pada Juli 2018, melalui Program RISE (Research on Improving Systems of Education) Indonesia, ditemukan bahwa tingkat pembelajaran siswa Indonesia di tahun 2000-2014 mengalami penurunan. Selain itu, peningkatan pemahaman siswa dari satu jenjang pendidikan ke jenjang berikutnya sangatlah sedikit. Adapun pemahaman dan kompetensi materi dari responden yang berusia 18-28 yang berarti telah menyelesaikan tingkat pendidikan dasar-menengah, berada jauh di bawah standar kompetensi yang ditetapkan kurikulum. Secara keseluruhan, hal ini membuktikan bahwa sekolah belum bisa menjalankan fungsi utamanya yaitu sebagai tempat belajar bagi siswa. Dengan kata lain siswa yang bersekolah belum tentu belajar.
Jika sekolah tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai tempat belajar seperti paradgima umum di masyarakat maka untuk apakah anak-anak kita bersekolah? Tulisan ini tidak bermaksud mengajak kita semua untuk meninggalkan sekolah namun, penulis ingin mengajak kita semua memikirkan cara untuk mengembalikan hakikat sekolah sebagai tempat belajar.

Paradigma Belajar bukan Bersekolah
Belajar bukanlah sekedar datang ke sekolah dan hadir di ruang-ruang kelas. Paradigma ini harus terbangun dari jajaran stakeholder pendidikan mulai dari tingkat kementerian hingga para guru. Dalam praktiknya, paradigma belajar ini akan mendorong guru untuk tidak lagi berfokus hanya pada tingkat kehadiran siswa semata namun juga pada kualitas proses belajar mengajar di kelas. Demikian pula dengan orang tua yang tidak lagi memaharahi anaknya ketika mendapatkan nilai rendah di mata pelajaran tertentu padahal sang anak memiliki prestasi di bidang lain. Di level selanjutnya kita harus menumbuhkan paradigma bahwa siswa yang ikut kegiatan di luar kelas yang mengasah kemampuan kepemimpinan, kerja sama, empati, dsb adalah bagian dari proses belajar meskipun tidak dapat diukur dengan angka-angka di rapor. Dengan demikian, belajar akan kembali pada hakikatnya yang luas yaitu proses menuntut ilmu yang bisa dilakukan kepada siapapun dan dimanapun.
Pada dasarnya sudah ada beberapa sekolah yang mencoba menerapkan paradigma di atas. Kita sebut saja seperti Sekolah Alam Kandank Jurank Doank yang didirikkan oleh seniman ternama Indonesia, Dik Doank. Sekolah ini mencoba mengejahwantahkan proses belajar yang tidak melulu di dalam ruang kelas namun juga menyatu dengan alam. Ada juga School of Human yang diprakarsai oleh salah satu pakar dan praktisi pendidikan, Munif Chatif. Sekolah tersebut meyakini bahwa belajar adalah sebuah proses membangun kesadaran siswa untuk bisa bertumbuh sesuai dengan kemauan dan kemampuan mereka sendiri. Pada akhirnya, pradigma bahwa siswa wajib bersekolah sudah seharusnya bergeser menjadi siswa wajib belajar. Dengan demikian, siswa lebih bisa memaknai setiap proses belajar yang mereka lalui tanpa harus terjebak pada paradigma sempit tentang sekolah.

Sekolah Itu Harus Menyenangkan
Apa yang terlintas di pikiran anda pada waktu kecil dulu saat bangun pagi kemudian menyadari harus berangkat sekolah? Atau sederhanya, lebih senang mana mendengarkan suara lonceng masuk kelas atau lonceng pulang sekolah? Kedua pertanyaan ini mungkin sedikit menggelitik dan membuat kita tersenyum-senyum kecil mengingat masa-masa bersekolah dulu. Namun, satu hal yang pasti, bagi kebanyakan siswa di Indonesia, bersekolah adalah salah satu kegiatan yang membosankan dan tidak menyenangkan.
Di buku berjudul “Sekolah itu Candu”, Roem Topatimasang mengingatkan kita tentang tujuan sekolah. Di jaman Yunani Kuno, sekolah adalah sebuah kegiatan mendatangi suatu tempat atau orang yang dianggap pandai untuk mempelajari apa yang mereka ingin ketahui. Kegiatan inipun hanya dilakukan ketika ada waklu luang setelah menyelesaikan pekerjaan pokoknya seperti berladang. Dari sinilah akar kata sekolah yaitu skhole yang berarti “waktu luang”. Di Indonesia sendiri, Ki Hajar Dewantara memilih menggunakan nama “Taman Siswa” untuk menguatkan bahwa tempat belajar itu haruslah menyenangkan seperti sebuah taman yang dipenuh dengan bunga dan kupu-kupu. Indah dan membuat betah.
Hari ini, dengan mudahnya kita bisa menyaksikan fenomena siswa-siswi sekolah yang memiliki 1001 cara untuk membolos sekolah. Kejadian sederhana lainnya dimana anak-anak lebih bersemangat bangun pagi di hari Minggu daripada hari Senin. Tentu ini menjadi bukti bahwa tujuan sekolah kita saat ini telah keluar dari jalurnya. Bahwa sekolah haruslah menjadi tempat yang membuat siswa-siswi ketagihan belajar tidak bisa kita temukan lagi. Dari kejadian ini, kita bisa melihat betapa sekolah hari ini telah tercerabut dari hakikatnya sebagai tempat mengisi waktu luang (yang berarti haruslah menyenangkan) untuk belajar.
Untuk mengembalikkan suasana sekolah yang menyenangkan bagi siswa dalam belajar maka semua elemen harus ikut terlibat. Di level pemerintahan daerah, kita bisa mencontoh pemerintah Kabupaten Tanggerang yang meluncurkan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Sebuah program yang berusaha membuat siswa datang ke sekolah karena semangat mereka untuk belajar bukan karena keterpaksaan. Lebih dari itu, Kepala Sekolah dan Guru adalah pelaku utama dari upaya untuk mewujudkan sekolah yang menyenangkan. Sehingga Kepala Sekolah perlu didorong untuk menjalankan program inovatif guna mendukung lingkungan sekolah yang menyenangkan. Adapun kemampuan mengajar kreatif dan bermakna para guru mampu menghadirkan suasana belajar yang bermakna dan menyenangkan di setiap ruang-ruang kelas.

*Tulisan ini telah dimuat di Kolom Opini - Koran Malang Post pada Kamis, 9 Mei 2019

Andi Akbar Tanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar